Persepsi yang Meleset (Fin)
Duk! Aku jatuh dari tempat tidurku. Ternyataa... itu semua hanya mimpi. Walaupun pinggangku masih terasa sakit karena jatuh, aku masih berniat untuk memejamkan mata dan berharap mimpi itu berlanjut lagi. Ya! Aku ingin memimpikannya terus seperti itu! Tapi tunggu, jam berapa sekarang?
Aku berusaha meraba jam waker yang ada pada meja kecil di depanku lalu mengambilnya. Tebak, pukul berapa yang aku lihat? Setengah tujuh pagi. Itu artinya kemungkinan lima persen aku tidak telat ke sekolah pagi ini.
---
"Bisa gak sih dateng ke sekolah pagian dikit?" omel Lessi kepadaku. Aku hanya bisa mengunjuki deretan gigiku karena masih sulit mengatur napas. Ya, sepanjang lorong sekolah ini aku berlari. Untungnya guru jam pertama hari ini datang terlambat sehingga aku masih bisa masuk kelas tanpa sarapan kultum pagi.
"Ohiya, ada yang pengen gue ceritain deh." kata Lessi sambil tersenyum penuh rahasia.
"Apa?" kataku sambil meletakkan tas.
Lessi melihat ke arah kanan dan kiri. Aku semakin penasaran rahasia apa yang ingin Lessi bagikan kepadaku.
"Ngomongnya sambil jalan ke toilet aja yok." katanya sambil menggandeng tanganku dan mengajakku pergi.
---
"Mau ngomong apa sih?"
Lessi tersenyum beberapa detik lalu terbahak tiba-tiba. Aku... sangat merasa bodoh ketika tak tahu apa-apa seperti ini.
"Si Gume, jadian sama Ken!"
Aku... langsung membelalak.
Aku langsung berhenti berjalan, dan menoleh ke arah Lessi.
"Kenapa? Serius! Haha, Gume cerita sama gue. Ga nyangka banget ya, Ken sukanya sama dia.."
Aku sulit bernapas. Tiba-tiba momen di kala hujan itu terekam kembali di dalam pikiranku. Ken yang terkekeh, menunjukkan sisi lainnya hanya padaku. Oh, satu lagi. Momen ketika aku menagihinya uang kas kelas. Tiap kata yang ia ucapkan kali itu bahkan belum pergi dari memori otakku.
"Kenapa?" kata Lessi sambil menepuk bahuku. "Ja.. jangan-jangan.. lo suka sama Ken?" lanjutnya sambil menganga.
"Ha? Nggak hehe.."
"Serius, jangan bohong sama gue."
"Gue gak bohong, oke. Baguslah kalau mereka jadian. Jadi kita semua tau kalau Ken masih cukup normal buat suka sama cewek." kataku sambil tersenyum tipis.
"Haha, iyak bener-bener. Betewe, anter ke kantin yuk."
Aku tidak bisa apa-apa selain mengikuti arah Lessi pergi.
---
Kadang jatuh cinta itu bukan hal yang selalu menyenangkan. Kadang jatuh cinta bisa menjebloskan kita ke dalam lubang yang paling dalam. Terikat status Ken sekarang yang rumornya punya tambatan hati sendiri.
Kalau di pikir-pikir, aku ini hanya terlalu fokus pada Ken dan tidak memikirkan faktor lain. Seperti Gume yang jelas-jelas sedang dekat dengan Ken tak masuk dalam hitunganku. Aku masih saja berpikir kalau di dunia perasaan ini hanya ada aku dan laki-laki dingin itu. Jadi, masuk akal kalau kondisiku masih dalam kaget yang susah habisnya.
Mungkin kala hujan itu cuman persepsi ku yang meleset. Kala adegan menagihi uang kas hanya asumsi yang hiperbola. Sampai-sampai otakku terlalu berharap hingga menjebak diriku sendiri dalam mimpi semalam. Mimpi yang -amat- indah. Kejadian-kejadian itu bukan lain hanya sebuah ketidak sengajaan. Masalah sebenarnya ada apa dengan perasaan Ken, aku rasa tidak usah di pertanyakan. Hatinya jelas memilih Gume dari pada aku. Atau sejak awal aku memang tidak terdaftar dalam pilihannya.
Aku tersenyum sendiri.
Sudah lama aku tak jatuh cinta, dan kini aku ingat lagi rasanya. Bahagia, gugup, dan pahitnya serasa bisa aku telan sekaligus. Jika sudah begini, bukankah aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa? Aku tersenyum lagi sambil menulis catatan yang ada pada papan tulis. Aku rasa, aku bisa menikmati kesedihan ini. Aneh memang.
"Yume! Liat! Benerkan kata gue?" Lessi tiba-tiba mengguncang lenganku sambil menatap pada satu arah. Aku mengikuti pandangannya.
Ken sedang bercanda dengan Gume.
Aku tersenyum. Sakit juga ternyata.
"Gue kan gak bilang lo bohong, haha." kata ku sambil terkekeh sumbang karena tak ada niat lalu kembali menulis catatan yang belum sempat ku tulis selama pelajaran berlangsung tadi. Sekarang sudah jam istirahat.
"Haha.. ga nyangka Ken sukanya sama si Gume." kata Lessi sambil mengubah posisinya ke semula.
Sama ternyata. Bahkan mungkin aku lebih-lebih tidak percaya di bandingkan Lessi.
Aku selesai mencatat. Menutup buku tulisku dan mulai memasang earphone. Lambat laun, perasaan ini akan hilang. Aku yakin. Jadi tak ada alasan untuk memikirkan hal ini, walaupun perasaanku akan bertolak belakang dengan pikirkanku.
Kehidupanku, akan kembali ke keadaan semula. Sungguh.
---
Tamat. Gaje abis. Epic banget. Wakakaka.
PS: Tidak ada lagi lanjutan dari seri cerita ini. Mohon maaf bila ada yang kecewa dan sebagainya. (Wakaka emang ada yang nungguin?)
