Begini
Aku menarik napas.
Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama sekali. Tidak hilang. Tidak ada obat.
Sepertinya, aku belum siap.
Aku masih takut.
Aku masih sama, tukang menyangkal dan mengelak. Tak mau kalah. Tak ingin lepas. Ia milikku, dan hanya aku. Tapi tentu saja takkan bisa seperti itu, kan? Ia juga punya kehidupan. Ia juga butuh kesenangan. Bohong kalau bahagia bersamaku. Dusta. Maksudku, mengapa harus memetik buah matang pada puncak pohon, jika sebagian ada yang tersusun manis di keranjang?
Jarak yang ingin ku putus seketika.
Aku menarik napas lagi.
Namun yang ada malah sesuatu merebak pada ujung mata. Bodoh! Mengapa segininya? Gila! Entahlah. Makian kurang cukup. Aku butuh sesuatu yang bisa menyakitiku secara fisik dan mental; supaya berhenti berangan-angan!
Rasa yang ingin ku enyahkan.
Belum cukup. Berusaha membencimu malah membuatku semakin retak. Kenangan yang sedikit manis itu malah mengeliang, justru ketika ingin ku lumpuhkan. Duh! Apa mauku? Apa mau otak dan hatiku? Kok mereka terkesan mempermainkanku? Kok mereka malah bertolak belakang tentangmu?
Ah. Sakit.
Rupanya, begini jika mencoba tanpa tau resiko.
Begini jika memaksakan sesuatu yang belum siap.
Begini jika ingin meninggalkan, tapi masih ingin di sisi.
Begini.
Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama sekali. Tidak hilang. Tidak ada obat.
Sepertinya, aku belum siap.
Aku masih takut.
Aku masih sama, tukang menyangkal dan mengelak. Tak mau kalah. Tak ingin lepas. Ia milikku, dan hanya aku. Tapi tentu saja takkan bisa seperti itu, kan? Ia juga punya kehidupan. Ia juga butuh kesenangan. Bohong kalau bahagia bersamaku. Dusta. Maksudku, mengapa harus memetik buah matang pada puncak pohon, jika sebagian ada yang tersusun manis di keranjang?
Jarak yang ingin ku putus seketika.
Aku menarik napas lagi.
Namun yang ada malah sesuatu merebak pada ujung mata. Bodoh! Mengapa segininya? Gila! Entahlah. Makian kurang cukup. Aku butuh sesuatu yang bisa menyakitiku secara fisik dan mental; supaya berhenti berangan-angan!
Rasa yang ingin ku enyahkan.
Belum cukup. Berusaha membencimu malah membuatku semakin retak. Kenangan yang sedikit manis itu malah mengeliang, justru ketika ingin ku lumpuhkan. Duh! Apa mauku? Apa mau otak dan hatiku? Kok mereka terkesan mempermainkanku? Kok mereka malah bertolak belakang tentangmu?
Ah. Sakit.
Rupanya, begini jika mencoba tanpa tau resiko.
Begini jika memaksakan sesuatu yang belum siap.
Begini jika ingin meninggalkan, tapi masih ingin di sisi.
Begini.

Tidak ada komentar: