Senja Kini Bukanlah Jingga
Pada senja itu.
Telanjang kaki, tapakku mengarah sembarang sambil mencari bekas-bekas langkah kakimu sebagai petunjuk. Banyak duri dan kerikil. Menyakitkan dan tak bohong kalau sepasang alat gerak ini berdarah; terluka. Hebatnya, mereka tak bosan menelusuri jajak bayangmu, berharap menemukanmu dengan segera.
Tapi tidak semua buruk. Satu atau dua bunga tumbuh pada sisi jalan kedua kaki ku ini. Mereka tersenyum dan memintaku untuk memetik. Mereka bilang akan memberiku pemusnah rasa sakit sekaligus mencabut atas duri yang tengah tertancap dalam padaku. Mereka bilang ingin membantuku. Tapi tetap saja kaki yang tak beralas ini membawaku pergi; tanpa ragu, tanpa setengah hati. Mengabaikan bunga yang murni lagi tulus menawarkan diri. Malahan, jejak tak jelas lagi-lagi menjadi pedoman untuk berlari mendekati yang tak pasti.
Pada senja itu.
Kaki yang tak tahu kemana harus berhenti masih terus melangkah pergi..
Dan memang hanya pada senja itu, karena senja kini tidaklah sama.
Pada senja kini.
Dua buah kaki ku tak mampu lagi mencari. Jejakmu yang mana sebagai petaku benar hilang tanpa tanda, sekalipun satu titik saja. Tak ada di sana sini. Yang dulu kaki ku percaya, kini benar-benar sirna begitu saja. Pada akhirnya, hanya bekas luka kaki yang abadi terasa, bukti konkret kedua alat gerak itu pernah berusaha mencari harapan mustahil mereka.
Pada senja itu, hangat surya masih menjelaga di balik gumpalan awan kemerahan. Cerah sekaligus indah. Waktu dimana dua kaki pernah mencari mimpi sampai keujung dunia.
Namun, senja kini adalah gelap. Senja kini dua kakiku yang letih. Dua kaki yang kehilangan arah tujuan beserta harapan.
Senja kini bukanlah jingga. Senja kini.. hanya putus asa.
