Love Me: Diary Sheet 1

" Nagoya, Senin, 22 Maret 2005 : 21.00

Aku tidak menyangka, malam ini adalah malam yang berbeda dari biasanya. Aku ditugaskan untuk mengantar makanan yang dibuat Obasan ke keluarga pemilik panti asuhan. Tidak, bukan itu. Aku sudah sering mengantarkan makanan yang dibuat Obasan bila ada acara tertentu kesana. Yang berbeda adalah seorang anggota baru di keluarga pemilik panti asuhan itu. Aku pikir sepasang orang tua yang aku panggil dengan sebutan Okaasan dan Otousan itu tidak mempunyai seorang anak.. Namun ternyata.. "

---

"Okaasan, Konbanwa!" sapa gadis berambut sepinggang itu sambil membungkukan badan pada wanita yang berada di depannya. Wanita itu segera mengucapkan kata-kata yang sama dengan si gadis. Sebut saja gadis bermata bulat itu dengan nama Kuromi.

"Kuromi-chan, ayo segera masuk. Udara diluar sangat dingin malam ini, padahal sekarang belum waktunya musim salju.." ucap wanita itu sambil merangkul bahu Kuromi dan menuntunnya ke dalam rumah yang berdesain klasik itu. Kuromi hanya tersenyum tipis dan melangkah beriringan dengan Okaasan. 

Okaasan membuka pintu dan menyalakan pemanas ruangan. Kuromi yang sudah sangat sering berkunjung ke rumah itu tanpa ragu meletakkan mantel hitamnya di sebuah gantungan yang menempel pada dinding lorong menuju ruang tengah.


"Bagaimana acara ulang tahun Takeshi? Okaasan ingin sekali kesana, namun Okaasan kedatangan tamu istimewa." kata wanita berambut cokelat sebahu itu sambil memakai sandal rumah. Kuromi mengikuti gerakannya. Ia sudah tau alasan mengapa wanita di depannya tidak bisa menghadiri acara salah satu anak panti asuhan yang ia miliki.

"Sangat lancar, Takeshi juga sangat senang walaupun Okaasan dan Otousan tidak datang."

Okaasannya tersenyum dengan wajah bersalah, namun cepat-cepat menambahkan.

"Kebetulan sekali Kuromi-chan, ada yang ingin Okaasan kenalkan padamu. Cepat ganti sandalmu, dan ikut aku." ucap wanita itu sambil menggantungkan tangannya pada bahu Kuromi. Kuromi hanya mengerutkan dahi tidak mengerti. Siapa yang akan dikenalkan oleh Okaasan nya itu?

Mereka berdua berjalan beriringan sampai ke ruang tamu. Benar, ternyata ada dua orang yang duduk di sofa berwarna coklat itu. Yang satunya adalah Otousan, ia persis duduk mengahadap Kuromi. Sementara yang satunya duduk membelakangi Kuromi sehingga ia tidak bisa melihat siapa yang akan di kenalkan kepadanya. Namun dari suaranya dan potongan rambut yang terlalu berantakan, Kuromi bisa menebak kalau dia seorang laki-laki. Mereka tidak menyadari kedatangan Kuromi. Sepertinya mereka sedang sangat serius membicarakan sesuatu.

"Nah, ayo silahkan bergabung bersama Otousan." ucap Okaasan sambil berhenti dan menepuk-nepuk kecil bahu kanan Kuromi.

"Tapi sebelumnya, aku ingin memberikan ini kepada Okaasan. Seperti biasa, sebuah titipan dari Obasan." sahut Kuromi sambil memberikan kotak berukuran sedang yang terbungkus plastik hijau.

Okaasan tersenyum lebar sambil menerima bungkusan itu. "Terima kasih Kuromi-chan, sampaikan juga salamku kepada Obasan. Aku akan menyiapkannya di dapur, sementara kau bergabunglah bersama Otousan dan putraku.."

Kuromi langsung mengerutkan dahinya. Putra? Sejak kapan Okaasan memiliki seorang putra? Ia mengalihkan pandangan kepada dua orang yang sedang tertawa bersama. Apakah dia putra kandung Okaasan dan Otousannya? Atau dia hanya anak angkat, sama seperti posisinya? Baru saja ia ingin bertanya kepada Okaasan, namun ternyata wanita itu telah menghilang.

"Apakah itu Kau Kuromi-chan?" suara Otousan menggema di sekitar ruang tamu.

Kuromi tersentak dan langsung menoleh ke sumber suara. Dua pasang mata telah menatapnya sekarang.
"Ya, ini aku Otousan.." lanjutnya dengan nada bicara yang penuh dengan kegugupan.

"Ah, apa yang kau lakukan disitu, sayang? Otousan pikir kau hanyalah sesosok bayangan hantu. Kemari, duduklah bersama kami." ucap Otousan sambil  mengibaskan tangannya agar Kuromi bergabung. Kuromi mengangguk kecil dan berdiri di samping Otousan dengan kepala yang terus tertunduk. Entah mengapa Kuromi takut untuk bertemu pandang dengan putra dari Okaasan dan Otousan itu. 


"Jadi Otousan, ini yang tadi kau bicarakan?" ucap laki-laki yang Kuromi takuti dengan nada bicara yang ramah. Otousan mengiyakan dengan anggukan mantap.

"Hajimemashite.. Aku Diazama Yoshito. Senang bertemu denganmu.." sapa laki-laki itu sambil berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Kuromi. Kuromi tertegun melihatnya, lalu cepat-cepat membalasnya dengan membungkukan badannya.

"Aku Kuromi Takigawa. Senang bertemu denganmu.." sahut Kuromi tanpa menyambut tangan laki-laki yang sedang menatapnya heran. Beberapa detik mereka hanya bisa seperti itu, tanpa menambah gerakan dan mengeluarkan kata sepatah pun.

"Ah, ya. Maaf aku lupa. Tentu saja. Douzo Yoroshiku.." ucap Daizama sambil membungkukkan badannya. Bergiliran, sekarang Kuromi yang tertegun mendengar kata-kata Daizama yang sangat tidak jelas. Mereka lalu duduk perlahan bersama-sama.

Melihat adegan tersebut, Otousan langsung tersenyum geli. Lalu ia cepat-cepat mengambil alih, dan menjelaskan kepada Kuromi atas apa yang terjadi.

"Daizama adalah putra Okaasan dan Otousan. Sudah hampir tiga tahun Daizama berada di Amerika. Daizama bersekolah disana karena mendapatkan beasiswa yang di salurkan pemerintah Jepang. Dan sekarang, Daizama berniat kembali meneruskan sekolah menengahnya di sini. Ia seumuran denganmu, Kuromi-chan."

"Ya, jadi aku telah lupa cara berkenalan di Jepang. Doumo.." sambungnya sambil tersenyum lebar.

Seketika Kuromi menegang. Pikirannya mendadak jauh. Mulai sekarang akan ada orang yang sebaya dengannya, dan parahnya, itu adalah anak dari Okaasan dan Otousan. Pemikiran yang buruk dan baik bercampur menjadi satu. Kuromi membayangkan apa yang akan orang itu bawa ke dalam hidupnya. Apa ia akan memperburuk kehidupan Kuromi yang terasa suram, atau ia akan merasakan bagaimana rasanya punya seorang teman? Bagaimana jika nanti laki-laki itu memprotesnya agar tidak memanggil orang tuanya dengan sebutan Okaasan dan Otousan? Bagaimana jika nanti laki-laki itu melarangnya untuk menganggap Okaasan dan Otousannya sebagai keluarganya sendiri? Bagaimana jika..

"Kuromi? Kau baik saja?" sapa Otousan. Dua laki-laki yang bersamanya kini tengah menatapnya dalam-dalam.

"Ya, tentu." sahutnya sambil mengangguk kecil, pertanda bahwa Kuromi telah kembali pada alam sadarnya.

"Jangan melamun seperti itu. Bicaralah sesuatu, apa aku tidak membuatmu penasaran?" tanya Daizama sambil menyeringai lagi. Kuromi mengerutkan dahi. Daizama, apakah ia benar-benar laki-laki yang persis di dalam bayangannya?

"Baiklah, aku rasa aku saja yang memulainya." lanjut Daizama sambil mengatupkan bibirnya. Ia tidak lagi menyeringai. "Jadi, kau seumuran denganku, ya? Lalu kalau begitu, kau akan melanjutkan sekolah dimana?" tanyanya.

Sekolah? Apakah masih penting untuk sekolah? Bukankah, dengan sekolahpun hidupnya takkan pernah berguna? Kuromi malah menatap permukaan meja dan menerawang.
"Mungkin Nagoya Senior High School." timpal Kuromi asal-asalan, dengan pandangan yang masih menerawang kepada permukaan meja berwarna coklat tua itu.

"Hah? Apa benar? Nagoya SHS adalah tujuanku juga. Berarti kita akan satu sekolah!" jawabnya bersemangat. Kuromi kaget mendengar suara Daizama yang begitu heboh. Daizama sendiri tampak sangat senang.

"Aku telah mempunyai teman baru sebelum sekolah. Kono sugoii dayo!" lanjutnya lagi.

Berbeda dengan Kuromi yang semakin gugup mendengar Daizama akan bersekolah disana juga. Entah apa yang akan terjadi jika Daizama akan satu sekolah dengannya. Kuromi langsung cepat-cepat membuka mulut, hendak meralat omongannya. Namun Otousan lebih dulu menambahkan.

"Baiklah, kalau begitu Otousan akan secepatnya mendaftarkan kalian berdua ke sekolah itu. Otousan senang kalau anak-anak Otousan bahagia. Jika nanti kalian berdua benar-benar bersekolah disana Otousan harap kalian dapat saling menjaga satu sama lain."

"Tentu saja, Otousan. Onegaishimasu Kuromi-chan.."

---

"Aku pikir ia orang yang sombong. Makanya, aku sama sekali tidak berani menatap wajahnya. Namun sepertinya ia sangat ramah, dan suka tersenyum. Itu sebuah awal yang baik. Tapi sikapnya terlalu memaksakan diri.. Ini membuatku bingung. Aku baru pertama kali menemukan orang seperti dia. Ya, orang yang terlalu memaksakan diri untuk cepat akrab dengan orang lain. Mudah-mudahan saja apa yang akan terjadi kedepannya selalu dalam kondisi baik-baik saja.."

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.