Persepsi yang Meleset 1
Aku berjalan cepat-cepat menyusuri tepi jalan yang sepi. Oh, ini gawat. Hanya aku sendiri disini yang memakai seragam sekolah. Ya, di saat cuaca gelap seperti ini, aku malah terlanjur mengambil jalan pulang yang sepi. Bodohnya, aku telah melupakan payung lipat dan ponselku mati. Jika hujan, tidak ada pilihan selain menunggu titik air itu berhenti. Rumahku juga masih setengah jalan lagi. Mulutku sibuk komat-kamit berbicara sendiri dan berharap supaya hujan tertunda.
Namun rupanya, Tuhan ingin memberi aku pelajaran supaya tidak menjadi anak yang pelupa. Deras, seribu titik air serasa menjitak habis kepalaku. Sakit!
Aku langsung berlari ke warung berbilik yang telah tutup di pinggir jalan untuk berteduh. Aku tidak tahan. Tepatnya kurang suka. Hujan menyebabkan dingin. Itu sebenarnya yang tak kusuka. Aku pun sampai dan berjalan mengitari warung, mungkin saja ada sebuah bangku untuk bisa di duduki.
"Ken?"
Aku memanggil. Ken yang sedang duduk di sebuah bangku panjang itu menoleh. Dia... teman sekelasku yang paling dingin. Kemudian ia tersenyum tipis sekali.
"Lo nunggu apa?" Kataku. Bingung, sejak kapan Ken suka 'hang out' disini?
"Nunggu ujan reda lah. Emangnya nunggu duren jatoh dari pohon beringin ini?" Katanya sambil menunjuk ke arah atas, tepat dimana pohon beringin membungkuk.
"Nggak mungkin juga, kan?" Kataku sambil tersenyum dan duduk di sebelahnya, tidak begitu dekat. Ken terkekeh amat pelan. Oh, dasar cowok dingin.
Diam. Ken tidak berkata apa-apa lagi. Aku sendiri juga tidak bisa membahas topik apa-apa. Laki-laki seperti Ken memang bisa di ajak bicara seperti apa? Yang aku tahu, di kelas ia hanya sibuk dengan earphone dan mangga. Eh, manga. Entahlah aku tidak paham.
"Suka hujan?"
Aku menoleh cepat. Ken bertanya?
"Ngomong sama gue?" Kataku memastikan. Ken mengangguk tanpa menoleh.
Aneh. Kenapa Ken tiba-tiba bertanya yang kurang penting? Maksudku, orang seserius dia mungkin bisa menanyakan tentang pelajaran yang td di ajarkan di sekolah. Atau apalah. Yang berbobot.
"Hmm.. kurang. Kenapa?"
Ken tersenyum lebih baik dari tadi. "Hujan itu bikin kangen."
Astaga, demi apapun. Seorang Ken bilang kalau dia kangen? Memangnya laki-laku seperti dia punya perasaan semacam itu? Entah mengapa ini sangat lucu bagiku. Aku tertawa pelan. Ken menoleh.
"Kenapa?"
"Punya perasaan kangen juga, emang?" Kataku di sela tawa.
"Untuk dia, ada."
Aku berhenti tertawa dan terbelalak. Ken sedang jatuh cinta atau bagaimana? Aku langsung berubah menjadi serius. Antusias meletup-letup di dalam dadaku. Siapa, siapa?
"Lo... lagi jatuh cinta Ken? Yaampun, bisa?"
Ken tertawa. Demi apapun ini adalah hal yang paling absurd menurutku. Jika berbicara saja jarang, bagaimana kalau tertawa? Ken aneh!
"Semua manusia bisa jatuh cinta. Semuanya. Bullshit kalo dia nggak pernah punya perasaan kayak gitu."
Aku diam. Ternyata Ken memang sedang menyukai seseorang, dan rindu kepadanya. "Siapa namanya Ken?" Kataku sangat amat penasaran.
Ken tertawa, lalu menatapku. Aku diam, menunggu dia mengucapkan satu nama saja. Namun... ia diam juga. Aku bingung harus melakukan apa. Tatapan Ken aneh, dan aku tidak mengerti. Aku tidak bisa membaca apa yang sedang ia lakukan lewat pandangan itu. Suara derasnya hujan memenuhi kepalaku, ya, karena kami hanya saling diam, saling tatap. Namun dengan gerakkan tiba-tiba ia langsung tertawa lagi. Aku kaget.
"Sekarang gue gak kangen lagi, kok. Gue puas. Dah Yume.."
Ken langsung berlari sambil memakai tasnya. Ia menerobos hujan dan lari dengan amat kencang, menghilang dengan cepat.
Oke, aku bingung. Apa yang sebenarnya ia maksudkan? Anehnya, jantungku ikut berdegup dengan amat cepat. Aku tidak mengerti kenapa dia hari ini. Laki- laki aneh.
