Pulang
"Aku... Tidak tau..."
Katanya ragu sambil memutar bola mata yang beriris kecoklatan lalu menggigit bibir. Aku hanya bisa terdiam tanpa berkata apa-apa sambil menatapnya lekat-lekat. Entah mengapa, mendadak ada sesuatu yang sakit menerjang dadaku, mendengar bahwa laki-laki di depanku malah tidak tau apapun tentang perasaannya.
"Kenapa... Bisa?" Aku berbalik tanya lalu menelan ludah, sambil berharap ada sedikit saja ucapannya yang meringankan rasa sakitku.
"Aku juga tidak mengerti.." Timpalnya.
"Apa itu berarti Kau membutuhkan waktu?" Tanyaku lagi cepat tanpa sedikitpun melepas pandangan darinya.
Keheningan menyelimuti kami selama bermenit-menit dengan dia yang tampak bingung menanggapi pertanyaanku. Kini dia sendiri hanya sibuk mengusap-usap belakang lehernya dengan berdeham beberapa kali.
"Kalau begitu.. Tidak usah dipikirkan.." Ucapku akhirnya sambil memaksa seulas senyum yang sungguh tak ku minati.
Dia mematung seketika, lalu tertegun menatapku. Aku berusaha mengatakan kalau tidak ada yang salah lewat ekspresi wajahku.
"Na.. Naya.. Apa kamu.. Sakit?"
Beraninya ia bertanya seperti itu justru ketika hatiku nyaris mati karenanya.
"Tidak, aku sehat sekali pagi ini.." Kataku dengan lagi; memasang senyum palsu yang sama.
Dia menatapku penuh ragu, lalu menunduk lagi. Aku tidak mengerti. Apakah tingkahnya itu menandakan kalau ia merasa bersalah? Berpura? Nyata? Kenapa harus di depanku seperti ini, justru ketika hatiku baru saja berniat untuk melupakannya?
Tapi, astaga, aku baru paham kalau melupa bukan hal mudah seperti membalik telapak tangan.
"Bolehkah aku mengatakan sesuatu?" Kataku memecah keheningan. Ia mendongak menatapku lalu mengangguk pelan.
Entah mengapa seperti ada gaya tarik menarik dalam diriku. Sesuatu yang sakit, yang membuat dadaku terasa sempit kala aku menarik napas.
"Mungkin, aku bukanlah siapa-siapa. Aku cuma seseorang yang belakangan ini masuk ke dalam hidupmu, dengan presentase yang kecil sekali. Aku juga tidak tau persis apa posisiku menurutmu. Berarti atau tidaknya aku, memang hanya kamu yang tau." Aku menghela napas yang terasa sangat sulit untuk aku hirup. Mataku mulai terasa perih untuk melanjutkan omonganku sendiri.
"Tapi sungguh, dari hatiku terdalam, kamu memang satu-satunya. Aku buta sebagian, karena tidak bisa melihat siapapun kecuali kamu. Sekalipun kamu begitu dekat namun transparan. Maksudku, ada bersamaku tapi tak bisa ku sentuh.
"Aku tau perasaan bukan hal yang dapat di paksakan. Seberapa kuat perasaanku, aku tidak pernah bisa memaksamu untuk memiliki rasa yang sama. Aku tidak bisa berbuat banyak, karena rasa adalah hal yang rumit. Sampai saat ini saja, bahkan aku tak mengerti kenapa aku menangis di depanmu." Tuturku. Ya, tanpa sadar, air mataku keluar begitu saja saat aku berbicara. Aku mengusap butir air itu, namun malah semakin banyak. Aku mengusapnya lagi dan lagi, tapi malah semakin sulit untuk berhenti.
"Far.. Sungguh aku bukan sesuatu yang pantas kamu perjuangkan. Aku tau itu, makanya aku tidak banyak komentar saat mendengar ucapanmu tadi. Tapi kalau kamu ingin mendengar kejujuranku, aku sakit. Sakit sekali, pada dadaku. Entah kenapa, aku selalu berharap lebih padamu. Tiap katamu, aku selalu ingin mendengar yang baik, yang membuatku merasa sedikit saja tenang kalau kamu peduli. Namun yang tadi itu benar-benar di luar dugaanku.."
"Naya.. Aku..." Potongnya sambil berusaha menyentuh tangan kananku. Aku menghindarkan tanganku pelan, sementara yang kiri masih sibuk mengusir air mata pergi.
"Tidak ada yang harus di maafkan, karena aku baru saja mengerti. Ini semua tak lain tak lebih, karena aku... Mencintaimu.. " Ucapku gamblang. Aku tidak berani sedikit saja melihatnya. Aku tidak tau apa yang ia pikirkan. Biar saja.
"Ah, aku harus pergi cepat-cepat. Perpustakaan harus segera ku buka." Kataku sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, lalu memberanikan diri untuk menatapnya sebentar sambil tersenyum.
"Jika kamu sudah mulai merasakan apa yang aku rasa, dan kamu mulai mengerti bahwa ada seseorang yang menunggumu...
Pulanglah, kepadaku."
Aku pun melambaikan tangan dan berbalik setengah berlari, meninggalkan laki-laki itu yang hanya bisa tertegun sedari tadi. Kini aku hanya berjalan sendiri, di temani butiran air yang tak mau berhenti keluar dari tadi. Aku mengusapnya untuk kesekian kalinya, namun ia tetap keluar seiring rasa sakitku yang semakin memparah.
Bagaimana dengannya? Aku tidak tahu. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Sungguh aku tidak ada nyali untuk menatapnya, khawatir justru kondisi hati ini lebih buruk lagi.
"Pulanglah, kepadaku.."
