Aku Hanya..

Mungkin besok. Mungkin lusa. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan.

Bibirku sibuk menggumam waktu dengan harap kamu seperti dahulu; menungguku di ambang pintu dengan lengan yang terbuka lebar, siap memelukku.
Tapi kalau kita berbicara nyata, harapan itu takkan pernah ada. Sungguh, yang aku butuh saat ini hanya sebuah tangan besar yang siap memukulku; menyadarkanku.

Dari awal, memang kita bukanlah sesuatu yang harus satu. Aku hanya pelabuhan sementara untukmu, ketika bagiku kamu adalah perahu terakhir untukku. Aku adalah hal yang terlongkap dalam daftarmu. Aku adalah kata yang terlewat dalam bacamu. Aku, tak lain tak bukan, hanya angka yang tak terhitung olehmu.

Lagi-lagi, bahkan sekalipun aku anggap kamu adalah kereta terakhir dan satu-satunya untukku. Ya, kereta yang kau sebut-sebut dengan tujuan ke angkasa itu.

Tapi, hatimu adalah batu.
Seberapa bahagiaku ketika melihatmu, kamu takkan tau. Seberapa piluku ketika ditinggalmu, kamu takkan peduli. Kamu hanya pergi, berlalu lalang memasang senyum sana-sini, membuatku jatuh hati, lalu sebentar saja meninggalkanku pergi.
Sekejam itukah kamu?

Gamblang mulutku berkata "Kamu tidak seburuk itu," sampai aku tau kini aku hanya butir debu yang tak pernah terlihat olehmu; mengganggu. Aku benar-benar omong kosong yang tak berbukti realis di matamu. Lagi, aku hanya angin pelan yang lewat, yang sedikit saja menyentuh ujung rambutmu tanpa kau merasa sedikit saja bahwa ada aku.

Bahkan kabarnya, kini ada angin yang kata orang lebih besar dari pada aku. Ia lebih kuat dan menyenangkan, sekaligus membuatmu sadar kalau ada seseorang sekarang. Sayang, aku kini sudah terlempar jauh terbuang.

Banyak kata yang bisa ku gambarkan kecewa, mungkin tak terhitung. Bodoh memang, karena kecewaku sekaligus harapku. Ya! Mungkin esok hari kamu akan paham rasanya sepertiku. Sadar bahwa disini ada yang masih menganggapmu nomor satu. Atau lusa. Atau minggu depan. Atau bulan depan. Atau tahun depan. Atau..

memang kamu, takkan pernah lagi datang.

1 komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.