Love Me
Tepat sepuluh hari setelah kepergian Kuromi, aku resmi meninggalkan ruang inapku di Rumah Sakit Tokyo. Keadaanku sudah membaik, dan kurasa, jantung yang di donorkan kepadaku sangat cocok untuk tubuhku. Aku merasa sehat kembali, aku merasa lahir kembali. Walau aku masih lemah dalam masa pasca operasi ini.
Sekarang, aku dalam perjalanan. Aku tidak sabar untuk mengunjungi anak-anak yatim piatu di sebuah panti asuhan milik Otousan. Aku sangat ingat ketika mereka datang bersama-sama ke Rumah Sakit tempatku dirawat. Mereka berusaha menghiburku, terlebih lagi mereka mendoakanku dengan tulus agar aku cepat sembuh. Aku sangat menyayangi mereka semua, aku sangat merindukan mereka. Aku tidak sabar untuk menyapa mereka semua, berterima kasih pada mereka satu persatu.
Berbicara soal rindu, ah Kuromi. Andai saja pelita kecilku itu masih hidup. Pasti sekarang ia sedang menungguku di panti asuhan. Mataku berkaca lagi dengan sendirinya. Aku menarik nafas yang rongga-rongganya terasa sempit untuk jalan keluar masuk udara. Aku memejamkan mata, dan berdoa: agar Kuromi tetap tenang dan bahagia disana.
Tak lama, aku sampai di panti asuhan. Otousan membukakan pintu mobil untukku, dan membantuku keluar. Okaasan tidak ikut pergi bersama, karena ia sibuk mengurusi Ojiisan yang sedang demam, sementara Obaasan sendiri menderita gangguan pencernaan. Aku sempat tersenyum melihat Obaasan yang begitu letih karena berkali-kali masuk kedalam kamar mandi. Rencanya, dokter baru akan datang kerumah Ojiisan siang ini. Jadi, pada pagi ini Okaasan yang mendapat jatah untuk mengurusi mereka berdua.
Begitu aku menjajakan kakiku di sebuah halaman yang aku tidak kunjungi sebulan ini, anak-anak panti asuhan yang sedang bermain langsung berlari ke arahku sambil meneriakkan namaku. Mereka berhamburan dan memeluk tubuhku dengan erat. Aku tersenyum bahagia, senyuman mereka seolah bisa mengisi kembali tenagaku yang telah hilang belakangan ini. Aku membelai kepala mereka satu persatu, dan mengucapkan terima kasih. Aku sangat senang. Otousan sendiri tersenyum melihat tingkah anak-anak panti ini yang begitu berlebihan ketika melihatku.
Taklama, seorang wanita cukup umur yang telah ku kenal ikut berjalan menuju ke arahku. Ia mengulurkan tangan kanannya dan aku menyambutnya. Kemudian ia juga mengulurkan tangan kepada Otousan. Ia tersenyum ramah kepada aku dan Otousan.
"Aku sudah mengira Daizama-san akan kembali seperti dulu, dan mengunjungi kami seperti ini." ucapnya sambil menelusupkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jubah putih yang ia kenakan hari ini. Aku tersenyum.
"Iya, aku sangat bersyukur Obasan. Sungguh ini merupakan anugrah terbesar dalam hidupku." sahutku.
Kemudian, Obasan menyuruh agar anak-anak panti mandi dengan segera. Ya, sekarang waktu baru menunjukan pukul delepan pagi. Selain itu, hari ini merupakan hari libur musim panas. Wajar saja mereka yang memang masih kecil malas untuk membersihkan diri, dan lebih memilih untuk bermain di halaman panti. Dengan wajah yang kecewa, mereka meninggalkanku dan berpesan agar aku tetap disini, di tempatku berdiri, tidak meninggalkan mereka.
"Obasan.. Selain mengunjungi mereka, aku ingin melakukan sesuatu.." pecahku ketika kami bertiga terdiam memandangi anak-anak yang masuk ke dalam bangunan panti untuk bergegas mandi. Obasan menoleh.
"Daizama-san ingin melakukan apa?" tanyanya heran sambil menaikkan alis tebalnya.
"Daizama ingin melihat kamar Kuromi, persis seperti yang aku bilang pada waktu itu.." sambar Otousan sebelum aku berbicara. Aku mengangguk kecil.
Ya, setelah sehari kepergian Kuromi, aku langsung meminta Otousan agar tidak membuang dan mengosongkan kamar Kuromi sampai aku berkunjung kesana. Aku ingin melihat semuanya. Aku ingin bernostalgia dengan semua hal yang bersangkutan dengannya, sebelum ia benar-benar hanya menjadi sebuah kenangan.
Obasan langsung megubah air wajahnya menjadi sendu. Ia mengangguk kecil.
"Ikut aku," katanya sambil berbalik dengan berjalan menunduk ke arah bangunan panti. Akupun berpamitan dengan Otousan. Ia akan kembali menjemputku setelah selesai nanti. Setelah itu, aku langsung berlari kecil mengikuti Obasan yang telah masuk ke dalam panti.
---
Aku melihat semuanya. Tempat tidur, meja belajar dengan beberapa tumpukan buku tebal di atasnya, lemari pakaian, dan beberapa fotoku bersama Kuromi berbingkai yang tergantung manis pada dinding kamarnya. Semuanya, aku melihat origami burung yang menggantung di seisi langit kamarnya. Mungkin saja jumlahnya ada seribu buah. Tas sekolah yang terbaring di atas kasur tipisnya mengingatkanku betapa banyaknya buku-buku yang ia bawa ke sekolah. Aku tersenyum sendu.
Aku berjalan mendekati cermin. Disinilah, tempat bayangan Kuromi berada. Aku mengusapnya, berharap bayangan Kuromi benar-benar muncul dan tersenyum padaku. Namun setelah aku sadari, itu tidak akan terjadi.
Aku membuka lemari pakaian yang berada di samping cermin. Tidak dikunci. Aku melihat semua pakaian yang tergantung pada hanger lemarinya. Aku tersenyum melihat sepasang seragam sekolahnya. Andai saja Kuromi masih ada...
Kemudian aku langsung menutupnya. Kuromi pasti sangat melarangku untuk melakukan hal ini. Dia sangat pemalu. Aku yang mengingat seperti itu segera menjauh dari lemari pakaiannya dan mendekat ke arah meja belajarnya. Sepertinya ia belum sempat membereskannya. Aku duduk pada kursi kayu yang berada di depan meja belajar. Aku mengelompokkan buku-buku tebal dan buku tipis yang tersebar di permukaan meja dan menumpuknya menjadi satu. Namun, aku melihat sebuah buku tebal berwarna-warni dihiasi dengan gembok kecil pada bagian samping buku, sehingga buku itu tidak bisa terbuka. Mungkinkah ini diary Kuromi?
Perasaanku langsung bergejolak, antara rasa ingin tau dan menjaga privasi Kuromi. Aku kemudian menyerah dan meletakannya pada laci yang paling bawah. Aku harap aku lupa dengan adanya buku ini. Namun, saat aku membuka laci itu, aku menemukan sepasang kunci kecil. Aku bergejolak kembali. Apa itu adalah kunci dari gembok diary Kuromi? Aku mengurungkan niatku untuk menyimpan buku itu dan mengambil sepasang kunci kecil berwarna silver. Aku hanya mencoba untuk mencocokannya, setelah itu aku akan menutupnya kembali, ya hanya sekedar memastikannya.
Namun betapa terbelalaknya aku ketika gembok itu terbuka. Benar ternyata, kunci itu adalah kunci gembok diary Kuromi. Jantungku langsung memacu. Apa aku harus membacanya? Tidak. Aku sudah berjanji akan memastikannya saja. Tapi gemboknya sudah terbuka... apakah, salah?
つづく
つづく

Tidak ada komentar: