Prolog
Bunga putih. Tertaut manis di genggaman tiap-tiap jemari yang hadir pada pagi ini. Begitu juga aku, dengan air mata yang berlinang tiada henti. Aku duduk memandangi sebingkai foto besar yang terpampang di altar dengan bunga-bunga di sekelilingnya. Ya, aku tau. Dia telah pergi dan tidak akan kembali.
Mengingat ketika terakhir aku melihat jasadnya. Senyuman.. Ya, dia pergi meninggalkan dunia ini dengan senyuman. Sebuah senyuman yang tak pernah aku lihat sebelumnya selama aku bersama dengannya. Sebuah senyuman yang begitu bahagia. Mudah-mudahan saja, pelita kecilku itu memang merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Sekarang giliranku. Giliranku untuk memberi tanda kasih yang terakhir. Ibuku mendorong kursi rodaku menuju altar. Air mataku terus berlinangan walau aku sudah menyekanya berkali-kali. Aku tidak bisa membendung semua ini. Aku sangat menyayanginya. Aku sangat mencintainya. Dialah perempuan kedua yang paling berharga setelah ibuku.
Kursi rodaku berhenti tepat di depan fotonya yang sedang menatap kosong ke arahku. Ya, Kuromi memang selalu seperti itu. Dia jarang sekali tersenyum. Aku selalu bertanya mengapa ia begitu pemalu dan pendiam, namun dia selalu menggeleng dan mengatakan tidak apa-apa. Ya Tuhan, aku sangat merindukannya.
Aku mengusap bingkai foto itu dengan perlahan. Andai saja kau ada disini Kuromi.. Andai saja. Aku yakin aku tidak memerlukan tenaga begitu banyak untuk menangis karenamu. Sungguh, aku lebih menyukai ketika kita bersama-sama walau terlalap dalam emosi, daripada aku di dunia sementara kau disurga. Air matakupun berlinang lagi. Aku menyekanya dengan lengan kananku yang bebas dari jarum infus sekaligus menggenggam erat sebatang kasih terakhir untuk Kuromi. Aku meletakkan bunga mawar putih tepat di depannya dengan perlahan, lalu mengusap wajahnya sekali lagi.
Kuromi, aku sangat menyayangimu..
つづく

Tidak ada komentar: