Love Me: Diary Sheet 4
" Nagoya, 12 April 2005 pukul 22.43
Ini adalah hari kedua aku masuk sekolah, dan aku masih belum mempunyai teman. Biar, biarkan saja. Aku ingin menjadi sebatang kara. Aku tidak ingin mengenal dan akrab dengan siapapun. Tapi, setiap keinginan, tentu saja selalu ada penghalang. Daizama. Ia ke kelasku siang ini pada jam istirahat, dan datang dengan tujuan yang tidak jelas.. "
---
Kuromi duduk dengan wajah yang terbenam pada kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Ia memang selalu seperti itu sejak kecil. Lebih memilih untuk menyendiri dari pada bergabung bersama teman-temannya. Ia suka menerawang. Ia suka mengkhayal yang mustahil akan terwujud. Ia suka memikirkan apa yang bukan seharusnya di pikirkan.
"Kuromi-san!" suara yang melengking sampai ke telinga Kuromi, namun Kuromi tidak bergerak dari posisinya. Paling-paling hanya sebuah ucapan yang tak penting, pikir Kuromi.
"Kuromi-san! Ada orang yang mencarimu!" ulang suara itu lagi, selang beberapa menit.
Siapa yang ingin mencarinya? Kuromi menerka-nerka. Ia membuka mata dengan kepala yang masih terbenam pada tangannya. Memangnya masih ada yang mau mencarinya? Kuromi belum berkenal siapapun selama dua hari ini. Ia hanya tau nama-nama teman sekelasnya, itupun ketika salah seorang guru tengah mengabsen kehadiran kelas sepuluh C.
"Kuromi-san, ada yang mencarimu. Bisakah kau bangun dan melihatnya?" ulang suara yang sama namun lebih jelas dua kali lipat di banding suara sebelumnya. Ya, suara itu dekat. Dengan perlahan Kuromi mengangkat kepalanya dan berusaha tegak. Ternyata, itu adalah suara Hamasaki, sang ketua kelas.
"Dare? (Siapa?)" tanya Kuromi perlahan sambil merapikan rambutnya.
"Shiranai. (Tidak tahu.) Dia menunggu di depan kelas kita, datangilah.." jawab Hamasaki dan kembali lagi ke tempat duduknya, lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Guren dan Haru.
Kuromi terdiam sebentar. Siapa? Ia benar-benar belum mengenal siapapun, apalagi diluar kelas sepuluh C. Akhirnya, Kuromi bangkit dari kursinya tanpa minat, dan berjalan keluar kelas. Ia menggeser daun pintu yang sudah sedikit terbuka. Baru saja ia keluar, ia mendapati Daizama yang tengah menatap jendela yang berisikan pemandangan taman sekolah. Kedua tangannya menelusup ke saku celananya. Sepertinya laki-laki itu sedang menerawang.
"Naze? (Kenapa?)" tanya Kuromi tiba-tiba.
Daizama tersentak. Ia kaget atas kehadiran Kuromi yang telah berada di sebelahnya, dan tak lama langsung tersenyum, menunjukkan barisan giginya yang rapi.
"Bikkurishita (Aku terkejut), Kuromi-chan.." gumamnya sambil telapak tangan kanannya yang menempel pada dada. Kuromi hanya terdiam.
"Kore wa ofutaimu desu yo. (Sekarang waktu istirahat, lho) Kau tidak pergi ke kantin?" lanjut Daizama.
Kuromi terdiam sambil menatap uwabakinya tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan yang dilontarkan Daizama.
"Hey, ada.. apa?" tanya Daizama pelan dengan tampang kikuk.
"Aku yang akan bertanya, ada apa kau kesini? Ada perlu apa?" tanya Kuromi dingin dan tiba, dengan ekspresi yang sama. Kini ia menatap dasi hitam yang tergantung di kerah lehernya. Sepertinya ia belum mampu untuk menatap langsung ke pemilik si iris abu-abu.
"Etoo.. Nani mo nai.." jawab Daizama sambil menyeringai kikuk setelah melihat Kuromi yang sangat dingin. Kuromi mengangguk kecil
"Kalau begitu aku akan ke kelas lagi. Ja mata." sahut Kuromi seraya berbalik, namun Daizama menarik lengannya sebelum Kuromi melangkah pergi.
"Bisakah, kita berbincang bersama?" tanyanya dengan pandangan yang sungguh-sungguh.
---
"Kau tidak membeli apapun? Tenang saja, aku akan mentraktirmu.." tanya Daizama lalu menyedot jus alpukatnya yang berwarna hijau muda dan kental, sementara Kuromi sendiri hanya menggeleng dengan tatapan yang menerawang.
"Kenapa? Aku lihat, makanan disini enak-enak lho.." kata Daizama lagi sambil mengaduk minuman yang di depannya dengan asal. Kuromi menggeleng lagi.
Daizama terdiam. Ia menatap Kuromi yang sedang menerawang dengan lekat selama beberapa menit, setelah itu ia langsung bangkit dari kursi yang ia duduki. "Baiklah ayo kita kembali." ucap Daizama.
"Owarimashita ka? (Sudah selesai?)" tanya Kuromi yang terlihat agak tersentak sambil menoleh ke arah Daizama, namun entah karena apa ia cepat-cepat mengubahnya posisi kepalanya ke semula.
"Sudah.. ayo.." sahut Daizama walau agak kebingungan melihat tingkah Kuromi yang aneh. Gadis itupun segera bangkit dari kursinya dan berjalan lebih dulu, meninggalakan Daizama. Dengan cepat laki-laki itu menyusul langkah Kuromi hingga beriringan sampai keluar kantin sekolah.
"Kuromi-chan!" kata Daizama sambil menarik lengan Kuromi, sementara gadis itu langsung menghentikan langkahnya. "Kau aneh, kau tidak suka aku memintamu untuk menemaniku?" kata Daizama akhirnya. Kuromi hanya menggeleng. Beberapa anak yang kebetulan melewati lorong dimana Daizama dan Kuromi berada memusatkan perhatian kepada mereka, namun tidak mengehentikan langkahnya.
"Nai.. (Tidak)"
"Lalu..?"
Kuromi hanya menggeleng.
"Aku harus cepat kembali ke kelas, ada tugas yang belum aku selesaikan. Ja, mata.." ucap Kuromi sambil berusaha melepaskan telapak tangan yang menggenggam lengannya dan berlalu dengan langkah cepat.
Daizama terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Kenapa dengan gadis itu? Ada apa? Apa dia telah salah melakukan sesuatu? Ia terus memandang punggung berambut sepinggang itu sampai bayangannya hilang di balik lorong.
---
Kuromi terus melangkah cepat. Jantungnya tidak bisa bersantai sedikit saja. Degupnya seolah bisa terdengar dari sekian banyak suara ocehan siswa yang berada di sekitar lorong. Kuromi sampai ke kelasnya, dan langsung menutup daun pintu yang sedari terbuka dengan agak keras. Setelahnya, ia langsung menuju tempat duduknya dan menjatuhkan bokong disana sambil memijat pelipis. Ia tidak menghiraukan beberapa mata yang sibuk memerhatikan gerak-geriknya. Ia kemudian membenamkan kepalanya dibalik tangan yang telah terlipat di atas meja.
Apa yang telah ia lakukan? Ia telah menatap iris itu, lagi. Tapi tentu saja, ia tidak sengaja! Kuromi merasa sangat kacau. Mengapa dirinya bisa sebodoh itu? Tebakan ia benar, ini seperti hipnotis. Jiwanya serasa terbang seketika saat matanya bertemu dengan iris abu itu. Pikiran dan jiwa Kuromi seolah tenggelam di dalamnya, dan Kuromi tidak bisa keluar. Ia bahkan tidak sadar dan mengangguk begitu saja ketika Daizama memintanya menemani ke kantin.
Tidak, mana mungkin tatapan bisa mempengaruhi dirinya sampai seperti itu? Tidak. Ini cuma kesalahan Kuromi semata. Gadis itu mengingat-ingat, kenapa ia bisa melakukan hal sebodoh itu. Ah, mungkin saja ini efek perutnya yang kosong karena belum terisi makanan sama sekali. Ia tidak nafsu makan seharian ini. Ya, pasti karena itu semua ia menjadi bertingkah aneh di depan Daizama. Ia menarik nafas kuat dan menhembuskannya perlahan. Ia memejamkan mata, dan sialnya, hal yang pertama ia lihat ketika kedua kelopak matanya tertutup ialah iris abu Daizama.
"Aku ingin sendiri saat itu, benar-benar tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Itu sebabnya aku cepat-cepat meninggalkan Daizama di lorong dan ingin kembali ke kelas. Namun ia malah menangkap lengan ku dan meminta ku untuk menemaninya ke kantin. Dan sialnya, tanpa di sengaja, aku menatap kembali iris abu itu. Iris yang sangat membuatku bungkam seketika karena keindahannya. Iris yang membuat jantung ku berdegup dua kali lebih cepat. Tanpa sadar aku menerima ajakannya..
Dan, sampai malam ini, bayangan iris itu tidak juga luput dari benakku. Bahkan aku rasa, ini semakin menjadi-jadi karena wajah Daizama yang kini terlintas, bukan irisnya saja. Aku tidak habis pikir, ada apa denganku. Aku tidak mengerti diriku sendiri. Kenapa hanya dengan melihat iris yang indah aku bisa menjadi seperti ini? Ini hiper, benar-benar diluar logika. Namun ini yang aku rasa. Dimana letak daya tarik iris abu itu sehingga aku dibuat aneh seperti ini?"
つづく
Kuromi terdiam sambil menatap uwabakinya tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan yang dilontarkan Daizama.
"Hey, ada.. apa?" tanya Daizama pelan dengan tampang kikuk.
"Aku yang akan bertanya, ada apa kau kesini? Ada perlu apa?" tanya Kuromi dingin dan tiba, dengan ekspresi yang sama. Kini ia menatap dasi hitam yang tergantung di kerah lehernya. Sepertinya ia belum mampu untuk menatap langsung ke pemilik si iris abu-abu.
"Etoo.. Nani mo nai.." jawab Daizama sambil menyeringai kikuk setelah melihat Kuromi yang sangat dingin. Kuromi mengangguk kecil
"Kalau begitu aku akan ke kelas lagi. Ja mata." sahut Kuromi seraya berbalik, namun Daizama menarik lengannya sebelum Kuromi melangkah pergi.
"Bisakah, kita berbincang bersama?" tanyanya dengan pandangan yang sungguh-sungguh.
---
"Kau tidak membeli apapun? Tenang saja, aku akan mentraktirmu.." tanya Daizama lalu menyedot jus alpukatnya yang berwarna hijau muda dan kental, sementara Kuromi sendiri hanya menggeleng dengan tatapan yang menerawang.
"Kenapa? Aku lihat, makanan disini enak-enak lho.." kata Daizama lagi sambil mengaduk minuman yang di depannya dengan asal. Kuromi menggeleng lagi.
Daizama terdiam. Ia menatap Kuromi yang sedang menerawang dengan lekat selama beberapa menit, setelah itu ia langsung bangkit dari kursi yang ia duduki. "Baiklah ayo kita kembali." ucap Daizama.
"Owarimashita ka? (Sudah selesai?)" tanya Kuromi yang terlihat agak tersentak sambil menoleh ke arah Daizama, namun entah karena apa ia cepat-cepat mengubahnya posisi kepalanya ke semula.
"Sudah.. ayo.." sahut Daizama walau agak kebingungan melihat tingkah Kuromi yang aneh. Gadis itupun segera bangkit dari kursinya dan berjalan lebih dulu, meninggalakan Daizama. Dengan cepat laki-laki itu menyusul langkah Kuromi hingga beriringan sampai keluar kantin sekolah.
"Kuromi-chan!" kata Daizama sambil menarik lengan Kuromi, sementara gadis itu langsung menghentikan langkahnya. "Kau aneh, kau tidak suka aku memintamu untuk menemaniku?" kata Daizama akhirnya. Kuromi hanya menggeleng. Beberapa anak yang kebetulan melewati lorong dimana Daizama dan Kuromi berada memusatkan perhatian kepada mereka, namun tidak mengehentikan langkahnya.
"Nai.. (Tidak)"
"Lalu..?"
Kuromi hanya menggeleng.
"Aku harus cepat kembali ke kelas, ada tugas yang belum aku selesaikan. Ja, mata.." ucap Kuromi sambil berusaha melepaskan telapak tangan yang menggenggam lengannya dan berlalu dengan langkah cepat.
Daizama terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Kenapa dengan gadis itu? Ada apa? Apa dia telah salah melakukan sesuatu? Ia terus memandang punggung berambut sepinggang itu sampai bayangannya hilang di balik lorong.
---
Kuromi terus melangkah cepat. Jantungnya tidak bisa bersantai sedikit saja. Degupnya seolah bisa terdengar dari sekian banyak suara ocehan siswa yang berada di sekitar lorong. Kuromi sampai ke kelasnya, dan langsung menutup daun pintu yang sedari terbuka dengan agak keras. Setelahnya, ia langsung menuju tempat duduknya dan menjatuhkan bokong disana sambil memijat pelipis. Ia tidak menghiraukan beberapa mata yang sibuk memerhatikan gerak-geriknya. Ia kemudian membenamkan kepalanya dibalik tangan yang telah terlipat di atas meja.
Apa yang telah ia lakukan? Ia telah menatap iris itu, lagi. Tapi tentu saja, ia tidak sengaja! Kuromi merasa sangat kacau. Mengapa dirinya bisa sebodoh itu? Tebakan ia benar, ini seperti hipnotis. Jiwanya serasa terbang seketika saat matanya bertemu dengan iris abu itu. Pikiran dan jiwa Kuromi seolah tenggelam di dalamnya, dan Kuromi tidak bisa keluar. Ia bahkan tidak sadar dan mengangguk begitu saja ketika Daizama memintanya menemani ke kantin.
Tidak, mana mungkin tatapan bisa mempengaruhi dirinya sampai seperti itu? Tidak. Ini cuma kesalahan Kuromi semata. Gadis itu mengingat-ingat, kenapa ia bisa melakukan hal sebodoh itu. Ah, mungkin saja ini efek perutnya yang kosong karena belum terisi makanan sama sekali. Ia tidak nafsu makan seharian ini. Ya, pasti karena itu semua ia menjadi bertingkah aneh di depan Daizama. Ia menarik nafas kuat dan menhembuskannya perlahan. Ia memejamkan mata, dan sialnya, hal yang pertama ia lihat ketika kedua kelopak matanya tertutup ialah iris abu Daizama.
"Aku ingin sendiri saat itu, benar-benar tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Itu sebabnya aku cepat-cepat meninggalkan Daizama di lorong dan ingin kembali ke kelas. Namun ia malah menangkap lengan ku dan meminta ku untuk menemaninya ke kantin. Dan sialnya, tanpa di sengaja, aku menatap kembali iris abu itu. Iris yang sangat membuatku bungkam seketika karena keindahannya. Iris yang membuat jantung ku berdegup dua kali lebih cepat. Tanpa sadar aku menerima ajakannya..
Dan, sampai malam ini, bayangan iris itu tidak juga luput dari benakku. Bahkan aku rasa, ini semakin menjadi-jadi karena wajah Daizama yang kini terlintas, bukan irisnya saja. Aku tidak habis pikir, ada apa denganku. Aku tidak mengerti diriku sendiri. Kenapa hanya dengan melihat iris yang indah aku bisa menjadi seperti ini? Ini hiper, benar-benar diluar logika. Namun ini yang aku rasa. Dimana letak daya tarik iris abu itu sehingga aku dibuat aneh seperti ini?"
つづく
Love Me: Diary Sheet 4
Reviewed by Donichi-san
on
November 24, 2012
Rating: 5
