Love Me: Diary Sheet 3

Nagoya, Senin, 11 April 2005 : 21.35

Ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Ya, sekolah ku sekarang bertempat di Nagoya Senior High School. Otousan yang memaksaku masuk ke sana. Padahal tentu saja, kalau boleh memilih, aku tidak akan melanjutkan pendidikanku ke jenjang selanjutnya. Sudah cukup aku merepotkan semua. Lagi pula, hidupku tetap akan begini. Tidak akan berarti. Adanya pendidikan atau tidak, aku tetaplah Kuromi yang tidak ada gunanya. Ohya, satu hal yang di luar dugaanku.. Daizama, anak dari pemilik panti asuhan ku, benar-benar bersekolah di sekolah yang sama denganku.."

---

 Kuromi melangkah perlahan menyusuri gedung sekolah barunya. Jalannya terus menunduk. Rasa gugup dan enggan yang bercampur menjadi satu terkumpul di dalam dirinya pagi ini. Setelah selesai mengikuti upacara penerimaan siswa baru, Kuromi tidak bertemu siapapun yang ia kenali. Semua asing. Semua terasa aneh. Tapi ia menyukainya. Sangat menyukai dimana ia tidak dikenali oleh siapapun, dan tidak di pedulikan oleh siapapun.


Kuromi sampai di persimpangan lorong, namun karena posisinya yang terus menunduk, ia tidak menyadari bahwa di depannya tengah berjalan seorang laki-laki. Akhirnya, tanpa sengaja kepala Kuromi membentur dada si laki-laki dengan lumayan keras. Laki-laki itupun memekik keras sambil menunduk dengan tangan kanannya yang memegang dada bagian kirinya. Kuromi terkejut atas suara yang ia dengar, dan segera mendongak.

"Astaga, maaf. Sungguh aku tidak melihatmu. Maafkan a..." kata-kata Kuromi terhenti begitu saja. Rambut itu, rambut yang menunjuk ke segala arah. Warna kulit, postur tubuh.. Terlebih lagi suaranya.. Ya, Kuromi ingat, walaupun kepala si laki-laki terus menunduk sehingga wajahnya tidak terlihat. "Kau?" lanjut Kuromi dengan jari telunjuk kanan yang menggantung di udara.

Laki-laki itu mendongak perlahan dengan wajah yang meringis kesakitan. Tangannya masih terus memegang dada kirinya. Matanya memandang Kuromi dalam-dalam, dan disaat itu pula ekspresi yang ia perlihatkan mulai berubah.

"Kuromi-chan! Ohisashiburidesu ne! (Kuromi-chan! Sudah lama tidak bertemu)" pekiknya, namun dengan posisi tangan yang belum berubah.

Kuromi tersentak melihat ekspresi Daizama yang terlewat senang. Senyuman laki-laki itu lebih lebar dari sebelumnya, dengan gigi-gigi putih rapi yang terpampang di balik bibirnya.

"Hai.. (Ya)" jawab Kuromi sambil membungkukkan badan sedikit, dengan ekspresi yang benar-benar bingung.

"Akhirnya, aku menemukanmu. Aku pikir kau tidak jadi untuk bersekolah disini. Bahkan rencananya, sepulang sekolah aku akan mengunjungi panti untuk menemuimu.." sergah Daizama.

"Menemui.. untuk apa?" tanya Kuromi bingung.

"Tentu saja untuk menanyakan sekolahmu yang sekarang. Lagi pula, aku belum pernah kesana sekalipun.." jawab Daizama. Kini tangan kananya tidak menempel pada dada kirinya, walaupun kadang Daizama suka meringis. "Tokorode (Ngomong-ngomong), dimana kelasmu? Aku bertempat di kelas sepuluh A.." lanjutnya.

Kuromi terdiam. Ya, tak heran kalau Daizama bisa bersekolah di Amerika. Sepuluh A selalu terisi dengan anak-anak yang cerdas dan jenius. Berbeda dengan Kuromi, ia bertempat di kelas sepuluh C. Walau jumlah semua kelas untuk siswa baru ada enam kelas, namun tetap saja kelas sepuluh C bukanlah kelas unggulan. Hanya kelas yang berisi orang-orang biasa.

"Kuromi-chan? Nani ga atta no desuka? (Kuromi-chan? Apa yang terjadi?)

Daizama memecah lamunan Kuromi. Kuromi langsung terlonjak sambil membesarkan matanya dan menatap Daizama, hingga ia bisa bercermin pada laki-laki yang memiliki iris abu-abu itu. Namun, ia terdiam lagi. Iris abu-abu.. Begitu indah. Dua bola mata itu seakan sedang menghipnotis Kuromi agar tidak berhenti untuk memandanginya. 


"Kuromi-chan?" kali ini Daizama menjentikkan jari di depan wajah Kuromi.

"Hai! Naze? (Ya! Kenapa?) kata Kuromi sambil terlonjak, lagi. Daizama tersenyum geli.

"Kimi ni nani ga warui no? (Ada apa denganmu?)" tanya Daizama sambil terkekeh, melihat ekspresi Kuromi yang sangat polos.

"Betsu ni.. (Tidak ada apa-apa)" jawab Kuromi cepat dan singkat, lalu segera menunduk menatap uwabaki-nya yang bersih, lalu cepat-cepat menambahkan. "Eetoo.. Aku harus segera ke kelasku. Gomen ne, aku tidak bisa berlama-lama, sebentar lagi bel masuk akan berdering." Kuromi pun membungkukkan badannya seperempat derajat lalu pergi meninggalkan Daizama dengan langkah cepat.

"Kuromi-chan!" panggil Daizama ketika Kuromi telah berjarak dua meter dari tempat semulanya. Kuromi menoleh. "Ja, mata! (Sampai jumpa!)" lanjut Daizama.

Mendengar itu Kuromi hanya menangguk pelan, dan langsung berbalik lagi. Tepat disaat itu pula bel masukpun berdering mengisi seluruh ruang Nagoya Senior High School.

***

Kuromi menatap jam dinding yang terpampang pada sebuah dinding luar toko roti di sekitar perempatan jalan. Pukul empat sore lebih. Hari yang cukup melelahkan untuk mengawali masa sekolah menengah atas. Tentu saja, biasanya Kuromi hanya berjalan lima ratus meter untuk pulang sekolah, karena letak SLTPnya cukup dekat dengan panti asuhan. Namun sekarang, ia benar-benar harus memakan waktu di perjalanan. Kuromi harus berjalan sekitar seribu dua ratus meter. Ia tidak mempunyai sepeda untuk mempercepat perjalanannya. Sementara bis sekolah? Tidak. Itu akan mengeluarkan biaya lagi. Kuromi tidak akan membiarkan pemilik panti yang ia panggil sebagai Otousan dan Okaasannya itu kerepotan lagi.

"Kuromi-chan !!!" teriak suara laki-laki dari kejauhan yang mulai Kuromi kenali. Dialah, Daizama.

Kuromi langsung menoleh ke belakang, sementara Daizama sedang sibuk berlari ke arahnya. Lima menit kemudian, laki-laki yang berambut berantakan itu sampai di hadapan Kuromi dengan nafas yang tersengal.

"Apa aku lupa mengajakmu pulang bersama hari ini?" tanyanya di sela nafas yang kurang teratur.

"Mungkin.." kata Kuromi sambil berbalik dan mulai berjalan lagi.

Daizama memegang lututnya. Gemetar. Selalu seperti itu ketika sehabis melakukan olahraga. Namun ia segera menarik nafas panjang dan menghembuskannya keras, lalu berlari kecil hingga langkahnya beriringan dengan Kuromi.

"Aku tidak sabar ingin bertemu mereka semua.." ucap Daizama sambil tersenyum sendiri, sementara Kuromi terus berjalan tanpa mengindahkannya.

Kuromi sadar apa yang telah terjadi pagi tadi. Ia telah melakukan hal yang amat memalukan. Mengapa ia bisa melamun di dalam pandangan Daizama seperti itu, ia tidak tau. Yang jelas, ia tidak akan berani memandangnya lagi. Memandang iris abu-abu itu.

Daizama menoleh ke arah gadis yang sedari tadi menunduk itu. Ia merasa ocehannya tidak di dengar. Untuk itu ia memilih untuk diam juga, sama seperti Kuromi. Mereka terus berjalan tanpa ada sepatah katapun yang keluar di antara mereka, bahkan ketika mereka sampai di panti asuhan.

"Neeee! Kono kirei dayo! (Waah! Ini sangat bagus!) Panti ini sungguh indah!" pekik Daizama ketika ia menjajaki halaman depan panti, sementara Kuromi sibuk menutup pintu gerbang hitam yang menjulang tinggi sebagai pembatas halaman panti dengan lingkungan luar.

"Aku boleh kedalam kan?" tanya Daizama bersemangat kepada Kuromi yang telah selesai menutup gerbang.

"Tentu saja.." ucap Kuromi singkat sambil berlalu melewatinya ke arah bangunan panti. Daizama mengekori dengan ekspresi yang sangat senang.

Taklama, mereka sampai di depan pintu. Kuromi membukanya perlahan, dimana pintu tersebut langsung menghubungkannya ke ruang tamu cukup luas. Ekspresi Daizama lebih senang lagi ketika melihat anak-anak yang sedang bermain dengan penuh canda tawa pada ruang itu.

"Hei, itu Ane. Ia sudah pulang, sepertinya dengan teman sekolahnya.." kata bocah laki-laki yang sedang bermain pistol mainan dengan anak laki-laki di depannya.

"Ohya, benar.. Lihat, Ane datang bersama seorang laki-laki!" sahut anak laki-laki satunya. Beberapa mendengar omongan si anak itu, dan menggumamkan hal yang sama, sampai akhirnya seisi ruang tamu berbicara sambil menatap Kuromi dan Daizama heran.

"Tadaima minna.. (Aku sampai semuanya..)" sapa Kuromi sambil tersenyum simpul dan masuk lebih dalam. Daizama yang sedari tersenyum hanya bisa mengekori Kuromi.

Mereka semua menjawab salam Kuromi, namun masih menatap mereka berdua dengan penuh keheranan. Dan tepat disaat itu pula, Obasan keluar dari arah dapur menuju ruang tamu.

"Okaerinasai (Selamat datang) Kuromi-chan.. Sepertinya kau datang dengan seorang temanmu ya?" sapa Obasan dengan tangan yang masuk ke jubah abu-abunya yang ia pakai hari ini.

Kuromi terdiam sebentar, dan menoleh ke arah Daizama. Namun taklama, ia cepat-cepat menatap Oba lagi, ia takut bertemu pandang dengan Daizama.

"Iie, Oba. Aitsu wa.. (Bukan, dia adalah..)

"Hajimemashite.. (Salam kenal...)" potong Daizama sebelum Kuromi menyelesaikan kalimatnya, dengan badan yang ia bungkukkan sekita sembilan puluh derajat. Obaasan terlihat agak terkejut. "Watashi wa Daizama Yoshito. Kojima-san to Moyari-san no kodomo dayo. Yoroshiku onegaishimasu.. (Aku adalah Daizama Yoshito. Anak dari Tuan Kojima dan Nyonya Moyari. Mohon bantuannya)" lanjutnya dengan badan yang sudah tegak kembali, dan senyuman lebar pada bibirnya.

"Kojima dan Moyari? Kau anak pemilik panti asuhan ini?" ulang Oba tidak percaya. Bahkan, seisi ruang tamu terlihat sangat tersentak atas pengakuan Daizama.

"Hai, mochiron Oba.. (Ya, tepat sekali Bibi..)" sahut Daizama sambil tetap tersenyum.

Seluruh penghuni panti asuhan terlihat kaget. Yang mereka tahu adalah pemilik panti asuhan ini tidak mempunyai anak, sama seperti dugaan Kuromi sebelum melihat Daizama pada malam ketika ia mengantar makanan waktu itu.

"Jadi ini yang pernah kau temui, Kuromi?" kata Obasan dengan penuh senyum, sementara Kuromi mengangguk datar. "Ayo, duduklah Daizama-san. Kau adalah tamu istimewa sore ini.." lanjut Oba dengan senyuman yang menular kepada Daizama.

---

"Memang mengejutkan. Aku pikir Daizama adalah anak laki-laki seperti biasanya. Ya, kau tahu. Suka bebicara seenaknya dan kurang sopan santun. Namun Daizama berbeda. Apalagi ketika ia mengunjungi panti asuhanku. Diazama membuat seisi panti kagum akan sifatnya yang rendah hati dan humoris. Ia sama sekali tidak merasa sombong atas orang tuanya yang memiliki panti yang aku tinggali. Belum lagi iris abu-abunya. Tidak! Aku tidak akan menatapnya lagi. Itu membuatku merasa seperti orang bodoh. Tapi sampai kapanpun aku akan ingat. Iris abu-abu yang ia miliki begitu indah, benar-benar membuatku merasa tidak ingin melakukan apa-apa lagi ketika memandangnya. Tidak! Sepertinya aku mulai mengada-ngada. Tapi sungguh, aku tidak akan melupakannya.."

つづく

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.