Love Me: Diary Sheet 2

" Nagoya, Jumat, 25 Maret 2005 : 23.00

Untuk apa mereka datang kemari, dan meminta buah hati yang bukan milik mereka? Teruntuk aku, yang menjadi pilihan mereka. Aku, cukup merasakan kehampaan luar biasa, sekalipun aku tumbuh  dan dibesarkan di sebuah panti kecil yang ramai ini. Aku, cukup merasakan pedihnya tentang kebutaan kasih sayang dari orang tua kandung sendiri. Aku, ingin mereka yang asli, bukan yang imitasi. Tapi apa? Aku tau bahwa yang asli itu punya alasan tersendiri. Membuangku, hingga aku bernasib sama dengan semua anak yang seolah terlahir sebatang kara."

---

Kuromi menyelesaikan lipatan origaminya yang terakhir. Hari ini ia telah membuat dua puluh buah burung-burung kertas, yang jika dijumlahkan dengan buatannya seminggu ini menjadi sembilan puluh delapan buah. Kuromi terinspirasi tentang buku cerita yang ia beli di toko buku sudut kota Nagoya. Buku yang bercerita tentang seribu buah burung kertas yang mengabulkan permintaan.

Tak lama, suara ketukan pintu kamar Kuromi terdengar. Kuromi yang sedang duduk di atas kursi meja belajarnya segera menoleh ke sumber suara.
"Kuromi-chan.. Apa kau sedang tidur? Bisakah kau keluar sebentar?" suara Obasan terdengar kurang jelas dari balik pintu berwarna cokelat itu.

Kuromi diam sejenak, ia menatap burung-burung kertasnya lalu memasukkan benda warna-warni itu ke dalam laci yang menempel di bawah meja belajarnya.

"Kuro... Hah, Obasan pikir kau sudah tertidur."
Baru saja Obasan hendak memanggil ulang Kuromi, gadis berambut hitam pekat itu telah membuka pintu kamarnya lebih dulu dengan senyuman tipis yang terulas pada bibirnya.

"Ada apa Oba?" tanya Kuromi dengan tangan kanannya yang masih tergantung pada kenop pintu.

Obasan tersenyum lalu merengkuh tangan kiri Kuromi yang bebas.

"Kemarilah, ada yang ingin bertemu denganmu.." kata Oba sambil tersenyum lebar.

Kuromi yang bingung hanya bisa mengekori langkah Obasan sambil menerka-nerka, siapa yang ingin bertemu dengannya. Sampai akhirnya, Kuromi sampai pada ruang keluarga. Ia tersentak, untuk kesekian kalinya. Lagi, dua pasangan suami istri yang tak ia kenali. Mereka berdua duduk dengan manis, sambil tersenyum ramah pada Kuromi. Begitu juga anak perempuan yang berusia sekitar tujuh tahun, terus menatapnya tanpa berkedip dengan lengkungan lebar. Sepertinya ia sangat senang.

Langkah Obaasan terhenti, yang diikuti oleh Kuromi.
"Ayo Kuromi, perkenalkan dirimu.." ucap Obasan sambil melepas genggamannya, dan mengusap bahu kanan Kuromi.

"Hajimemashite. Atashi wa Kuromi Takigawa desu. Douzo yoroshiku.."
Tukas Kuromi sambil membungkukkan badannya sekitar empat puluh lima derajat sambil tersenyum hambar. Kedua suami istri itu pun segera bangkit dari duduknya dan membalas jikoshoukai Kuromi, begitu juga anak perempuan yang rambutnya terikat menjadi dua.

"Baik, ayo silahkan duduk.." ucap Obasan sambil menjatuhkan bokongnya ke sofa berwarna putih yang berhadapan dengan sofa keluarga asing itu. Kuromi duduk di sebelah Obasan.

"Mungkin.. Aku bisa langsung mengajukan permintaan.." ucap Tuan Tanaka sambil memangku anak perempuannya. Nyonya Tanaka melirik suaminya, lalu menatap Obaasan sambil mengangguk dan tersenyum penuh harap.

Obasan balas tersenyum. "Tentu saja, silahkan.."

Kemudian keluarga kecil itu menatap Kuromi sambil tersenyum. Kuromi hanya terdiam, benar-benar tidak mengungkapkan ekspresi apapun. Ia tau, sangat tau atas apa yang akan terjadi. Kuromi menatap anak perempuan yang tengah duduk di pangkuan ayahnya. Sangat manis.

"Taki.."

"Panggil saja aku Kuromi.." potong Kuromi sebelum Nyonya Tanaka selesai berbicara.

"Baiklah, Kuromi-san." balas Nyonya Tanaka sambil tersenyum, dan menatap permukaan meja kecil di depannya. Tuan Tanaka menggenggam erat tangan istrinya. Kuromi merasakan bahwa laki-laki itu sedang memberikan kekuatan agar Nyonya Tanaka segera melanjutkan kata-katanya.

"Aku, Suamiku, dan Putri kecilku adalah penduduk Tokyo. Kami sedang berlibur di rumah Obaasan, yah.. sekaligus mencari-cari sebuah panti asuhan.." ucap Nyonya Tanaka sambil menghela napas, lalu segera melanjutkan. "Ayumi menginginkan seorang kakak, padahal dia anak pertama. Tiap hari ia tidak ingin makan, kecuali ia di suapi oleh Kakaknya... Aku menjanjikannya seorang adik, namun tetap saja, ia menginginkan kakak."

"Di tiap panti asuhan yang ada, jarang aku menemukan anak seumuran denganmu. Mereka masih terlalu kecil untuk membimbing Ayumi dan menjaganya.. Dan sekarang aku menemukan panti ini.. Obasan sudah banyak berbicara tentangmu tadi.."


Kuromi terdiam. Anak perempuan di depannya menatap penuh harap.

"Jika kau bersedia, aku ingin sekali kau tinggal dirumah kami.." sanggah Tuan Tanaka. Kuromi tetap menatap perempuan kecil itu tanpa mengindahkan kalimat laki-laki yang berjanggut tipis itu. Keadaan hening seketika. Mereka seperti saling menunggu.

"Aku.." Kuromi mengeluarkan suara pelannya. "Aku tidak bisa.." lanjutnya.

Tuan dan Nyonya Tanaka langsung merubah guratan ekspresinya menjadi sebuah kekecewaan, begitu juga anak perempuan yang sedari tadi menatapnya.

"Kenapa? Oh, atau mungkin.. Kau tenang saja Kuromi-san. Kami ingin mengangkatmu bukan semata untuk menjaga Ayumi. Tapi lantaran kami ingin memiliki anak lagi, tanpa istriku harus mengandung.." ucap Tuan Tanaka.


"Tetap tidak bisa.. Kalau Ayumi benar-benar menginginkan ku, dia boleh berkunjung kesini setiap hari dan bermain bersamaku setiap waktu.. Maaf Tuan, Nyonya, Ayumi.. Aku tidak bisa.." ucap Kuromi tanpa ekspresi. Suara pelannya masih cukup jelas untuk didengar tiga orang di depannya.

"Aku mohon, Oneesan.."

Kali ini Ayumi angkat bicara. Tatapan matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Wajahnya memerah.

"Aku mohon.. Aku ingin sekali punya kakak seperti Oneesan. Aku ingin kakak yang mempunyai rambut tebal dan panjang seperti Oneesan. Manis dan ramah seperti Oneesan.." pinta Ayumi dengan air mata yang mulai berguliran. 

Kuromi menatapnya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar di antara mereka. Hanya isak tangis kecil Ayumi yang bergema di ruangan itu. Keadaan menjadi hening seketika. Beberapa menit keadaan hanya seperti itu, sampai akhirnya Kuromi tersenyum kepada Ayumi, dan mengibaskan tangannya agar Ayumi mendekatinya.

Ayumi mendekat sambil menyeka air matanya.

"Tanpa harus tinggal dirumah Ayumi, Oneesan akan tetap jadi Oneesan yang Ayumi mau. Oneesan akan selalu berada disini. Jika Ayumi rindu akan Oneesan, Ayumi datang saja kesini. Oneesan dengan senang hati akan menemani Ayumi seharian. Maaf sekali, Oneesan tidak bisa tinggal bersama Ayumi."

Kuromi membelai kepala Ayumi yang rambutnya terikat dua. Ayumi berhenti terisak, lalu melepaskan pelukannya untuk Kuromi. Kuromi tersenyum, dan membalas dekapan anak perempuan di depannya.

---

"Aku sibuk menerka-nerka, apa landasan orang tua kandungku mengasingkan ku disini. Mungkin aku adalah anak haram dari mereka, atau lebih parahnya, mungkin aku tidak berguna dan hanya menyusahkan kehidupan mereka. Jadi, untuk apa aku menerima permintaan yang imitasi, kalau yang aslipun menganggapku tidak berguna? Atau, untuk apa aku mendengar dan merasakan indahnya kehidupan dunia, kalau sebenarnya hidupku tak ada artinya?"

つづく

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.