Persepsi yang Meleset 3

Aku berbaring di atas kasurku, sambil menatap langit-langit kamar. Hah! Aneh, begitu saja, mengapa perasaanku jadi tak karuan begini? Memangnya Ken melakukan kata spesial atau romantis? Ups, kenyataannya, satu kalimat itu memang spesial buatku. Memang romantis buatku! Padahal, mungkin saja maksud Ken berbeda, bukan seperti apa yang aku pikirkan. Hah, Yume. Sejak kapan kau menjadi anak yang suka menduga-duga?

---

"Ossu! Yume, nanti katanya kita ada ulangan Fisika." kata Rikka tiba-tiba menepuk bahu kananku. Oke, si troublemaker  datang. Julukan itu bukan berarti ia suka membuat keributan dengan rasa amarah yang meledak-ledak. Ia... yah. Cukup hyperactive, sering ikut campur, tidak bisa sedikit saja untuk duduk manis dan diam. Ia selalu bertingkah seolah anak kecil. Oh, ya. Soal julukan itu, hanya pribadi karanganku sendiri. Entah mengapa aku merasa pantas dia menyandang gelar itu.

"Oh, ya?" kataku.

"Iya! Nanti kalo mau belajar bareng aja. Hehe.." sahutnya dan pergi meninggalkanku. Menyebalkan tingkat medium.

Aku melanjutkan jalan pagiku menuju kelas, dengan Rikka yang berlari kecil di depanku. Oh, ya. Langkahnya di buat-buat. Seolah balita yang baru bisa berjalan dua hari. Yang seperti itu tidak usah di pikir... Hah? Baru sampai di teras kelas, Rikka dan Ken sudah bersenda gurau. Apa yang sedang dibicarakan mereka? Entahlah, namun mereka terlihat senang dan sangat akrab. Aku sangat jarang melihat Ken mengobrol pagi hari. Sepengelihatanku, ia lebih memilih membaca komik Jepangnya atau sibuk dengan ponselnya ketimbang tertawa di pagi hari.

Reflek, kaki ku dengan sendirinya mempercepat langkah. Jujur, aku ingin tahu mereka sedang membicarakan apa.

"Haha, gue juga kok." kata Ken.
"Hahaha, sama kan kita? Toss dulu laaah!" Rikka membuka telapak tangannya. Dan, ternyata Ken menepukkan tangannya pada tangan Rikka.

Aku? Tak sempat mendengar apa lagi yang mereka bicarakan. Aku telah masuk ke dalam kelas. Dan anehnya, jantungku berdegup amat kencang. Bahuku memanas, dan telapak tanganku berkeringat. Aku.. tidak pernah melihat Ken sedekat  itu dengan perempuan lain. Jujur saja, ada perasaan kesal di dalam diriku. Kesal yang tak aku mengerti.

Aku menjatuhkan bokongku ke kursi kelas, dan membenamkan kepala di dalam lipatan tanganku di atas meja. Perasaan apa ini? Mengapa melihat yang biasa-biasa saja bisa membuat tingkahku luar biasa anehnya? Namun semakin aku mengingat tawa Ken yang mengudara karena Rikka, aku semakin kesal. Oh, ya. Memangnya aku bisa berbuat apa? Aaaaah! Aku bingung. Semenjak hujan itu, hidupku tak bisa santai saat dekat dengan Ken. Seperti sekarang. Aaaaah!

"Yume?"

Aku mendengar suara Ken dari belakang memanggil namaku. Seperti dikenadlikan remote control, badanku langsung tegap dan menoleh ke arahnya. Aku terkejut, ternyata memang benar dia.

"Kaki lo kenapa? Kayak ngamuk gitu?" kata Ken antusias.

Aku langsung menunduk. Kebiasaan yang tak bisa aku hilangkan. Ketika aku kesal, aku biasa menghentakkan kaki ke arah mana saja. Dan rupanya, kebiasaanku tertangkap basah oleh Ken. Wajahku menghangat.

"Nggak.. kenapa-kenapa..." kataku susah payah menutupi kegugupanku. Sungguh, aku sangat amat malu!

"Oh, baguslah.." sahut Ken. Dan tiba-tiba saja, telapak tangannya mendarat di kepalaku.

Aku terkejut dan mengangkat wajahku. Aku menoleh dan menatapnya. Ia tersenyum dan menunjukan deretan giginya yang rapi. Aku sulit bernapas, dan seolah dikutuk medusa. Tidak bisa bergerak dan melakukan apa-apa! Aku hanya tertegun sambil merasakan hangatnya telapak Ken.

Namun tiba-tiba saja, ia menarik tangannya dan menunduk.

"Ta.. tapan lo gak pernah bisa bikin gue santai sedikit aja.." katanya dengan suara yang gugup. "Btw, gue kesana dulu ya.." katanya dan langsung meninggalkanku.

Aku... terdiam. Aku tak pernah tau perasaan apa yang sedang menjamahiku. Apa perasaan Ken sama seperti perasaanku?

---

GAJE. Haha. Gue juga nggak ngerti. Dengan sendirinya jari-jari gue ngetik apa yang lagi gue pikirin. Sudahlah. Tapi.. entah kenapa gue berharap cerita ini ada yang baca..
Walaupun gaje..
PS: Mungkin lagunya Ia - Imagine Forest bisa bikin sense cerita ini lebih muncul^^

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.