Persepsi yang Meleset 2

Jadi, semenjak kejadian itu kami seperti tidaklah kenal satu sama lain. Ya, maksudku, aku dan laki-laki dingin itu. Ken. Tingkahnya kala hujan minggu lalu memang tidak terprediksi. Aneh. Seolah ia menunjukan sisi lain yang tidak di ketahui orang hanya padaku. Ya, walaupun masih dalam bentuk 'seolah'.
"Yume, lo di panggil Drint...!" kata Lessi yang menjadi teman semejaku sambil merampas earphone sebelah kanan yang tertaut pada telingaku. Oh, pikiranku buyar lagi. Aku menoleh, dan saat aku melihat sosok laki berperingai riang itu, aku baru ingat bahwa Drint duduk satu meja dengan Ken.
"Lo lagi dengerin lagu ya?" kata Drint. "Kalo iya, nanti aja deh gue minta tolongnya." lajutnya.
"Iya, tapi nggak apa-apa kok. Minta tolong apa?" sahutku sambil melepas earphone kiri. Kelihatan, Ken sendiri seperti melamun tak ingin tahu apapun. Oh, ya lalu apa hubungannya?
"Ajarin gue tentang bahasa Inggris buat ulangan nanti." Drint nyengir ragu.
"Nggak ngerti dimananya?" ucapku.
Dengan sendirinya Drint beranjak bangun dari kursinya dan membawa beberapa buku acuan bahasa Inggris, dan berjalan menuju mejaku. Tapi Ken sendiri tetap diam di tempatnya. Sekilas dari ujung mata aku melihat bahwa ia melirik ke arahku. Namun, entah. Mungkin aku salah lihat. Namun jujur saja. Biasanya ketika Drint bertanya kepadaku atau siapapun yang memiliki kemampuan lebih di tiap-tiap mata pelajaran, Ken selalu iku-ikutan. Namun sekarang, ia lebih memilih menyendiri seperti itu, tanpa kegiatan apapun. Melamun.
“Ken nggak di ajak?” kataku memberanikan diri setelah Drint sampai pada mejaku.
Drint menoleh ke arah laki-laki aneh itu. “Gaktau, belakangan ini dia sering begitu aja.”
Sungguh, aku semakin tidak mengerti. Atau jangan-jangan, kala hujan itu adalah terakhir kalinya ia berbicara pada seseorang?
Astaga, apa yang aku pikirkan? Lupakan saja, terkadang pikiranku memang tak selaras dengan logika.
***
“Oh, iya. Ngerti deh sekarang. Makasih ya Yume.” Kata Drint sambil beranjak pergi. Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Yume..” Kini suara Lessi yang terdengar dari banyaknya suara yang bergema di kelas. Ya, jam kosong guru memang selalu penuh dengan pencemaran suara.
“Kenapa Less?”
“Bantuin gue…… Nagih uang kas kelas.” Kata Lessi.
Lessi memang bendahara. Tapi jujur saja, aku baru menyadari kalau Lessi memang sedang mencoret-coret catatannya, menghitung uang, dan member ceklis pada kolom tertentu. Dan ia terlihat pusing.
“Oh, oke..”
“Tolong ya, sementara, ini catatannya. Gue masih harus ngitung pengeluaran minggu kemarin.” Ucap Lessi. Aku tersenyum lalu mengangguk dan mengambil buku catatan yang Lessi berikan. Pandanganku menyapu daftar itu dan.. astaga. Ken berada di dalamnya. Itu berarti, aku harus menagihnya. Entah mengapa perasaanku menjadi gugup, dan jantungku menjadi berdegup dua kali lebih cepat. Mengapa? Aku juga tidak mengerti. Mungkin ia bisa aku jadikan yang paling belakang.
***
“Ken, bayar uang kas empat ribu.” Kataku akhirnya. Ia benar-benar memang aku jadikan yang terakhir. Itupun dengan degup jantung yang entah -ada apa gerangan- berdegup dua kali lebih cepat.
Laki-laki yang sedang sibuk membaca komik Jepang itu merogoh sakunya dan memberiku dua lembar dua ribuan. Ya, tanpa menoleh!
“Gue kan ngomong sama lo, kan lo bisa juga deh sebentar ngeliat ke gue.” Kataku tanpa mengambil uang yang ia berikan kepadaku.
Ken menarik napas, lalu menutup buku komiknya, dan menoleh ke arahku.
Aku melihat matanya. Namun beberapa detik saja, kami melempar pandangan satu sama lain. Kami? Oh, ya! Kami! Entah kenapa Ken juga seperti gugup, dan menoleh kearah yang lain. Jantungku berdegup entah berapa kali lebih cepat. Hey, sudahlah! Ini aneh, jujur saja!
“Sudah, kan?” Tanya Ken sambil tetap pada pandangan terakhir.
Aku mengambil uang yang tertaut pada jemarinya dengan perlahan, lalu menceklis namanya. “Ya..” jawabku singkat, menutupi kegugupan ku yang tak tahu datang dari mana.
Kemudian, tak ada angin apapun, ia terkekeh pelan.
“Gue pikir gue doang yang gugup begini. Tapi ternyata, lo juga.”
Sejenak aku menahan napas. Ken kala hujan waktu itu kembali lagi, dengan senyuman yang sama. Kekehan yang sama. Perasaanku bercampur antara senang dan gugup yang berlebihan. Wajahku menghangat, dan aku tak bisa berkata apa-apa. Aku.. kembali ke tempat dudukku, dengan banyak –penuh- tanda tanya.

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.