Bisu

Kini kita saling diam, saling mengumpat dalam-dalam, bergumam keras sepanjang pikiran. Tidak ada yang lebih baik selain menontoni tanpa ikut aksi. Penyimak nomor satu tanpa harus ada yang tahu. Perasa yang paling handal namun hanya berkutat di tempat yang sama. Bisu.

Lekat-lekat hatiku bertanya, apa sebenarnya yang kau pikirkan. Yang membuatmu tak bisa tidur sepanjang malam, dan menuliskannya pada dinding transparan. Apa benar itu aku, atau orang lain yang lebih kuat dari pada aku? Aku ingin tahu, atau bahkan tiap-tiap langkah yang kau jajak, jarak yang kau dapat, gaya yang kau buat. Semua aku ingin tahu. Sekalipun bentengmu besi berlapis baja, yang di beri waktu singkat untuk terbuka, aku tetap ingin tahu.

Tapi lagi kita hanya bisa bercanda dalam dimensi beda. Saling menyapa tanpa menatap. Saling singgung di dalam harap. Seberapapun usaha yang kita buat, hanya bisu yang kita tangkap. Hanya rindu menggebu, namun tak mampu bertemu. Hanya sesal yang bertumpuk, tapi kata maaf tak berlaku. Sungguh, kita hanya bisa diam dan saling

menunggu.

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.