Hujan di Malam Minggu
Lupa.
Aku ingin sekali menghabisi kenangan kita. Entah ku telan atau ku buang, aku enggan menatapnya. Yang jelas, ada sesuatu yang melubangi alat perasa ini kala bernostalgia. Tak tahan, ingin hapus, ingin lenyap. Sengaja, agar rasa ini sekaligus terbawa.
Tapi rupanya sekuat apapun pikiranku berkata, sekuat itu juga hatiku menolak.
"Biar ku rasa semua ini, dan janganlah kamu pergi!" lantangnya sambil memojokkan logika ku hingga hilang arah. Membuatnya payah dan kesekian kalinya; membiarkan diri terluka. Sekalipun ketika orang-orang malah tertawa, sekalipun orang-orang bertanya; mengapa masih begitu saja?
Tapi justru aku hanya bisa tersenyum menjawabnya, dengan segala asumsi tentangmu bahkan saat kita tidak bersama, seperti ini:
"Kamu tahu hujan? Bagiku, hujan membuat hati kita tenang. Ia menyuguhi kita dengan seberkas memori yang buruk sekaligus menyenangkan. Membuat kita lama-lama merenung lalu mengenang sesuatu lewat bau dan suaranya. Bagaimana kalau pendapatmu tentang malam minggu? Ya, hampir semua beranggapan malam minggu adalah salah satu malam istimewa. Pada malam itu kita bisa tertawa, menghabiskannya dengan macam-macam hiburan dan canda setelah aktifitas pada enam hari sebelumnya. Bukan waktunya bersedih, kalau yang kita bicarakan adalah malam minggu.
Lantas, ada apa dengan dua hal itu?
Coba bayangkan, bagaimana jadinya jika hujan turun di malam minggu. Tentu saja semua yang keluar pada malam itu akan membatalkan rencananya, dan diam dirumah dengan perasaan kecewa. Beberapa orang mungkin akan kesal setengah mati sambil mengutuk sang pencipta. Beberapanya lagi diam saja, tanpa beranggapan apa-apa. Beberapa yang terakhir, justru tanpa sengaja telah menyatu bersama hujan, sama sepertiku.
Dan itulah, gambaran tentangmu.
Kamu adalah hujan malam mingguku. Seharusnya kini aku tersenyum, menikmati rasanya hidup tanpa mengingat-ingat segala tentangmu. Lupa, bahagia, sama sepertimu yang sekarang, yang tak ingat apa-apa lagi tentangku. Namun rupanya, kenangan itu belum sirna sepenuhnya padaku. Ia datang tiba-tiba, sesuka hatinya, lalu menoreh bahkan memperbesar lagi luka yang ada. Membuat rasa sakit tak kasat mata. Merenungi lagi sisa-sisa kesalaha yang ada. Mendustai lagi rasa yang ingin ku lupa.
Itu semua karena kenanganmu yang datang kembali padaku.
Itu semua karena kamu, hujan di malam mingguku."

Nyimak gan
BalasHapus