Epilog
Aku anggap cerita kita kini telah selesai.
Benar.
Mungkin saja, Tuhan menciptakan kita sebuah cerita yang
kemarin itu, hanya untuk menambah-nambah jenis perasaan yang pernah kita lalui.
Jelas bahwa aku hanya gadis optimis, penuh spekulasi
kompulsif. Mudah, mudah sekali disentuh walau bukan maksudmu menjamah hatiku.
Aku tidak bisa sedikit saja menganggap itu anugerah, atau
musibah. Kadang aku senang, kala aku merasa kamu anggap spesial, namun di situ
juga aku merasa nyaris mati, saat sadar kalau maksudmu bukanlah apa yang aku
mau.
Itu adalah cerita kita.
Cerita aku yang jatuh cinta, dan kamu yang tidak merasa.
Perempuan lain yang lebih hebat dariku mungkin seratus
jumlahnya. Yang lebih cantik dariku seribu jumlahnya. Yang lebih baik dariku
tak terhitung.. jadi, aku pikir lancang kalau aku memaksa kamu melihatku.
Tunggu di sana! Aku pikir begitu otakku memerintah
mulutku untuk bersuara. Tunggu di sana, sampai kamu yang jatuh cinta! Begitu
kira-kira. Tapi sesuatu dalam dadaku tidak menerima.
Sesuatu dalam dadaku itu memperlihatkan caramu bahagia.
Tanpa aku di sana.
Lalu jika saja, kamu tertawa lepas tanpaku, haruskah aku
ikut mengekor pada jalan hidupmu?
Tidak.
Aku adalah pengganggu nomor satu. Aku adalah bagian
picisan dalam hidupmu. Aku bukan apa-apa.
Aku hanya gadis gila yang suka berharap setinggi angkasa.
Begitu, kan?
Tentu, tapi kamu setengah benar. Bukan hanya itu saja,
namun aku juga insan yang senang melihatmu bahagia. Pendoa nomor satu buatmu.
Pengorban eksklusif demimu. Gadis yang menganggap dirinya sehat justru ketika
harapannya tak terkabul.
Sudahlah.
Kamu tau epilog kan? Akhir pada sebuah cerita, yang
justru isinya lebih menarik daripada menu utama. Bagian yang tidak diketahui
pembaca karena memang tidak dapat dibahas secara terang-terang. Ketika semua
selesai, barulah epilog ini tepat untuk diutarakan.
Dan inilah, epilog cerita kita.
Epilog
Reviewed by Donichi-san
on
April 19, 2015
Rating: 5
