Rupanya
Kemudian kamu tersenyum terang-terang.
Menandakan kalau yang semalam itu bukanlah apa-apa.
"Peringaiku yang acuh tak acuh? Lupakan saja." gumammu yang dapat kuucap ulang lewat pandangan mata.
Aku benci.
Mengapa tak katakan saja kalau tak kuasa memberi? Atau, mengapa memaksa tinggal kalau tak berniat?
Entahlah.
Yang jelas aku mulai menerka-nerka kalau akulah satu kemungkinan dari seribu pilihanmu, ketika kamu adalah rute akhir yang aku ambil untuk jalan ceritaku.
Aku benci.
Tiap semburat kegembiraan yang kamu ulas selalu berubah pias.
Ramah tamah katamu, pemeduli sikapmu tiba-tiba berubah ngilu.
Sisanya kemana?
Tidak ada kecuali manusia dingin yang tak banyak bicara.
Balas satu atau dua patah kata setelah itu sirna tertelan diam.
Tapi esok, lusa, atau kapanpun di masa depan, kegembiraan itu akan muncul lagi padaku,
Kerap kali kamu tak menemukan yang spesial pada hari itu.
Aku benci.
Kamulah yang menciptakan jarak menjadi dekat sekaligus jauh dalam kurun singkat.
Kamu yang memupuk harapan serta merta kamu yang menginjak-injak.
Kamu, yang sekarang menatapku rindu benar.
Tapi pasti, pasti nanti berubah, lagi.
Aku benci, sampai-sampai otakku kini mengerti sendiri;
Rupanya begini cara pemberi harapan palsu menari

Tidak ada komentar: