Love Me: Diary Sheet 5

" Nagoya, Minggu, 17 April 2005 pukul 00.55


Aku tengah duduk di kursi belajar ku, dengan beberapa tumpuk origami  yang belum sempat terlipat di sebelah kanan, dan sekitar lima puluh delapan burung kertas di sebelah kiri. Kemudian, Obasan mengetuk pintu kamar ku dengan agak keras, dan memanggil-manggil namaku dengan bersemangat. Aku membuka pintu kamar, dan mendapati senyum cerah Oba. Senyum yang selalu sama ketika menghadapi hal yang sama. Senyum ketika ada calon orang tua yang berniat mengadopsi ku.."

"Aku tidak bisa.." ucap Kuromi memandang kedua pasangan suami istri itu dengan perasaan bersalah. Senyum di pasangan suami istri yang berumur kepala empat itu memudar.

"Ada apa? Kau tidak perlu khawatir. Uang, peralatan sekolah, dan semua kebutuhanmu akan kami penuhi. Ya, kan?" kata sang suami sambil menyenggol bahu istrinya pelan. Wanita yang memiliki tahi lalat di pipi itu mengangguk dan menatap Kuromi penuh harap.

"Sumimasen, tapi aku tetap tidak bisa.. Maafkan aku.." sahut Kuromi sambil membungkukkan kepalanya. 

Keheningan menyelinap begitu saja di antara mereka selama beberapa detik, namun bunyi pukulan meja memecah dan mengagetkan seisi ruang tamu di panti. 

"Mana bukti omonganmu! Dia tetap tidak mau walau aku sudah menjelaskan kondisi istriku yang kesepian dan butuh seorang anak gadis! Pembohong! Kau hanya ingin menyita waktuku, ya! Dasar, baru menjadi penjaga panti asuhan saja, kau sudah berani menipu kami, ya?!" bentak sang suami itu dengan mata yang memancarkan amarah luar biasa, sambil mengacungkan telunjuknya tepat ke arah Obasan. Kuromi terkejut bukan main atas tingkah orang tua itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa mematung melihat kejadian di depan matanya.

"Sudah, suamiku, sudah!" teriak istrinya sambil merengkuh bahu suaminya. Laki-laki itu langsung saja melepaskan rengkuhan istrinya dan pergi keluar panti dengan cepat. Tinggalah istrinya dengan ekspresi yang hampir menangis, lalu menatap Obasan dan Kuromi bergantian.

"Maaf, maafkan suamiku. Kami sudah pergi ke banyak panti hari ini dan kita tetap tidak mendapatkan anak adopsi. Mungkin ia terlalu lelah.. Maafkan aku dan suamiku.." katanya gemetar. Obasan dan Kuromi hanya bisa mengangguk pelan. "Dan kau, tetap tidak bisa?" tanya sang istri sambil menatap Kuromi. Kuromi terdiam lama, lalu disusul gelengan kepala.

"Kalau begitu aku pamit.. Terima kasih banyak.." katanya sambil membungkukkan badan lalu melangkah keluar panti asuhan. 

Terdengar deru mobil yang melesat jauh setelah beberapa menit wanita itu keluar dari panti. Kuromi dan Obasan sama-sama terdiam. Kuromi memberanikan diri melirik Obasan yang berada di sampingnya. Begitu terkejutnya Kuromi ketika mendapati linangan air mata yang meluncur bebas pada pipi wanita berumur setengah abad itu. 

"Oba.." sapa Kuromi sambil menyentuh bahu Obasan, namun di tepis halus olehnya. Kuromi menjadi semakin bingung, dan merasa sangat bersalah. "Oba, maafkan aku.. Aku tidak bermaksud.." lanjut Kuromi namun Obasan cepat-cepat menyela.

"Aku selalu mengajukanmu terhadap orang-orang itu agar kau hidup bahagia dan layak. Kau sudah besar, dan kebutuhanmu tidak sedikit. Panti ini hanya mengandalkan sumbangan dari orang-orang dan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan. Taukah kau sekarang tujuanku?" kata Obasan sambil menyeka air matanya. Kuromi terdiam, perasaannya mendadak kacau balau.

"Maafkan a.." baru saja Kuromi hendak membuka mulut, Obasan langsung beranjak bangun dari sofa dan meninggalkan Kuromi. Kuromi memandang Obasan yang pergi. Dan ternyata anak-anak panti asuhan yang lain sedang menatapnya di sepanjang tangga. Mereka terbangun dari tidurnya, mungkin disebabkan suara pukulan meja tadi. 

"Apa yang kalian lakukan? Tidurlah, anak kecil tidak baik tidur terlalu larut!" kata Obasan dengan nada yang tinggi namun gemetar, sambil menghimbau agar anak-anak panti asuhan kembali ke kamarnya masing-masing.

Kuromi terdiam dengan pandangan yang masih tertuju pada tangga rendah yang ada di sudut ruangan, sekalipun mereka sudah tidak ada disana. Tak sadar, air mata Kuromi mengalir. Ia berusaha menyekanya, namun air itu tetap meluncur lagi dengan bebas dan deras. Kuromi tidak tau harus berbuat apa. Obasan tidak mengerti, mengapa Kuromi menolak semua permintaan adopsi. Dan kini, Obasan menangis karenanya. Obasan kecewa karenanya. Kuromi benar-benar merasa tidak berguna untuk tetap hidup. Gadis itu langsung beranjak bangun dari sofanya dan menuju kamar dengan langkah setengah berlari.

" dan aku menolaknya, aku menolaknya lagi. Tidak, sampai kapanpun aku tidak bisa. Sekalipun laki-laki itu memukul meja dan menunjuk Oba. Tapi sekarang Obasan kecewa. Benar-benar kecewa terhadapku. Aku telah membuatnya menangis. Aku telah melukainya. Sungguh, bukan maksudku seperti itu. Andai Oba mengerti rasanya jadi aku.. Sungguh Oba, maafkan aku.. "

つづく

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.