Love Me: Diary Sheet 9

Aku berhenti membaca dan menarik nafas. Aku.. aku.. tidak tahu harus berkata apalagi. Aku mempunyai perasaan buruk setelah membaca buku harian Kuromi. Aku merasakan detak jantung yang sangat cepat. Entah mengapa tiap lembarannya membuatku merasakan kalau dia.. kalau dia.. menyukaiku. Entah, mugkin ini hanya perasaanku saja. Mudah-mudahan bukan seperti itu hal yang terjadi. Aku membuka lagi lembar demi lembar, dan agak terkejut kalau disitu tertera banyak namaku. Sekelumit kejadian yang membuatnya gugup jika ada aku.. Aku langsung membuka sekaligus banyak halaman lalu membacanya.

---

" Nagoya, Jumat 13 Juli 2005 pukul 22.00


Musim semi telah berlalu dan musim panas akan segera datang. Aku semakin nyaman dengan sekolah dan teman-temanku, walau aku tidak begitu akrab dengan mereka. Sejauh ini tidak ada masalah dan semua terasa baik-baik saja. Mungkin itu pengaruh Daizama terhadapku. Aku pikir  aku akan selalu menghindarinya. Tapi entah mengapa, tiap kali aku ada masalah kecil, Daizama selalu menghiburku. Kadang juga terselip rasa yang aneh jika aku tidak bertemu Daizama sehari saja. Rasa ingin bertemu, ingin melihat, ingin berbincang yang luar biasa.. Mungkin itu yang disebut rindu.. Seperti hari ini, ketika ia menghilang begitu saja.."

---

Kuromi duduk menunggu di kelasnya. Entah, ia tidak tau dimana laki-laki itu. Biasanya Daizama selalu ke kelasnya tiap kali jam istirahat. Namun sudah lima belas menit berlalu dan batang hidung Daizama tidak terlihat juga. Kuromi merasakan sedikit kegelisahan, entah mengapa. Ia sendiri juga heran mengapa ada perasaan cemas di dalam dirinya. Bukankah harusnya ia santai saja? Tidak ada lagi yang membuat pipinya menghangat tiba-tiba, bukan?

Namun nyatanya, ia terus memikirkan Daizama. Dimana dia, dan sedang apa. Kuromi tidak cukup berani untuk pergi ke kelasnya dan mengetahui sebab Daizama tidak muncul seharian ini. Tadi pagi juga ia tidak melihat laki-laki itu sama sekali. Ia benar-benar merasa aneh, tidak melihat iris abu-abu itu seharian ini.

"Kuromi-chan? Kau mendengarku, kan?" sebuah suara memecah lamunan Kuromi.

"Ah, ya. Maaf Miko-chan.. Ada apa?" Kuromi balik bertanya.

Miko memutar bola matanya lalu duduk di kursi yang ada di depan Kuromi. "Aku ingin meminjam catatan Fisika-mu. Tadi aku lupa mencatatnya.." katanya sambil tersenyum.

"Kau ini, selalu ya.." sahut Kuromi sambil tersenyum lalu membuka ransel hitamnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul coklat.

Miko adalah teman di sebelah kursi Kuromi. Ia memang selalu meminjam catatan pada Kuromi. Wajar saja, tiap kali pelajaran berlangsung, ia selalu membuat acara sendiri. Seperti membuat puisi atau menggambar tokoh manga kesukaannya pada halaman paling belakang di buku catatannya. Akibatnya, ia selalu tertinggal pelajaran, dan tidak mencatat apa yang telah diterangkan oleh guru yang mengajar.

"Ini.." ucap Kuromi lagi sambil menyerahkan buku catatan fisikanya.

Miko tersenyum. "Arigatou Gozaimasu Kuromi-chan. Kau memang sangat baik..." katanya dengan mata berbinar. Kuromi tersenyum simpul. "Ohya, omong-omong, kenapa kau tadi melamun? Apa yang kau lamunkan?" lanjut Miko.

Kuromi menarik nafas, jantungnya berdegup cepat. Mana mungkin ia akan berbicara pada Miko kalau ia merindukan Daizama? "Tidak, hanya teringat..."

"Teringat Daizama ya? Haha, kau mengaku saja." sela Miko lalu tertawa.

Tiba-tiba saja Kuromi merasakan wajahnya yang menghangat. Dengan cepat ia menjawab. "Tidak, maksudku, aku hanya teringat pleajaran bahasa Inggris tadi. Sangat rumit!" pekiknya.

Miko semakin tertawa. "Aku melihat kebohongan pada matamu, lho." sahut Miko tersenyum jahil. Kuromi merasakan wajahnya yang lagi-lagi berubah warna. "Wah lihat, bahkan mukamu juga bersemu.." lanjut Miko, membuat Kuromi semakin malu.

Kuromi tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memalingkan wajah ke sekitar. Bagus, tidak ada yang memerhatikannya, karena ruang kelas memang hampir kosong. Kecuali Miko; Suji, laki-laki yang berada di pojok kelas dan sibuk dengan earphonenya; dan Karin, yang asyik membaca novel. 

"Semua orang sudah tahu, kok." ucap Miko lagi.

Kuromi berpaling cepat ke arah Miko dan mengerutkan dahi. "Maksudmu?"

Miko tersenyum meledek. "Ya, mereka semua tau kalau kau dan Daizama itu mempunyai hubungan spesial."

"Eh?"

"Ada apa? Kau mengaku saja padaku. Kitakan berteman. Lagipula, siapa yang tidak bisa membaca kalau jelas-jelas Daizama dan kau saling menyukai? Terlihat ketika kalian sedang berdua.. Cara menatap, cara berbicara..."

Kuromi terbelalak tidak percaya. Tidak, ia tentu tidak mempunyai hal yang seperti itu terhadap Daizama. "Mi.. Miko-chan, sepertinya kau salah paham. Sungguh." ucap Kuromi dengan nada gugup setengah mati.

"Ahh, aku yang salah paham atau kau yang menutup-nutupi? Sudahlah, aku tau kok. Ohya, pesanku, Daizama itu mempunyai banyak fans lho! Berhati-hatilah dengan mereka." jelas Miko panjang lebar. Kuromi semakin gugup.

"Sungguh, kau dan mereka salah mengerti. Aku dan Daizama.."

Belum Kuromi menuntaskan omongannya, bel pertanda masuk berdering nyaring. Sebagian anak langsung masuk tiba-tiba ke kelas, dan Miko sendiri segera bangkit dari kursinya. "Aku pinjam ya.." ucap Miko sambil tersenyum dan mengacungkan buku Kuromi.

---

Kuromi duduk di kursi belajarnya. Berbeda malam ini. Ia tidak membuat satupun burung origami, ataupunn menulis pada buku hariannya. Pikirannya kacau. Entah mengapa ia selalu memikirkan Daizama. Laki-laki itu benar-benar menghilang seharian ini. Biasanya ketika pulang sekolah, Daizama menunggu Kuromi di depan gerbang. Namun kali ini ia tidak ada. Kuromi cemas. Hatinya resah. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang buruk terjadi pada Daizama. Belum lagi perkataan Miko tadi siang. Apa benar Kuromi dan Daizama saling menyukai? Kuromi sendiri tidak tau. Kuromi sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan.

Memang, hatinya selalu terasa nyaman bila dekat dengan Daizama. Senyumannya bisa melepas segala penat dan kesedihan. Dan tidak bertemu dengannya adalah kegusaran terbesar yang pernah ia rasakan seperti saat ini. Jantungnya memang selalu berdegup lebih cepat tiap ada Daizama. Sentuhan yang kadang laki-laki itu berikan sukses membuat Kuromi mematung dan tidak bisa merasakan udara di tenggorokkannya. Lalu, apa itu yang disebut perasaan suka?

"Kuromi-chan. Ada telepon untukmu. Dari Daizama-san." pekik Oba dari luar kamar Kuromi.

Mendengar itu Kuromi langsung terlonjak dan bangun dari kursinya. Laki-laki itu.. laki-laki itu...

---

"Sampai besok, aku tidak bisa masuk. Maaf ya, aku baru memberi tahumu." sesal Daizama.

"Ya, tidak apa-apa. Kau santai saja disana, dan selamat bersenang-senang." sahut Kuromi. Suaranya menandakan kalau ia lega luar biasa bahwa tau laki-laki itu baik-baik saja.

"Tapi besok sore kemungkinan aku telah sampai di Nagoya.." kata Daizama. "Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau menungguku di stasiun?" lanjutnya.

Hening beberapa saat. Merasa tidak enak, Daizama melanjutkan. "Aku tidak memaksa, kok. Kalau kau tidak bisa tidak ap.."

"Aku bisa, pukul berapa?" potong Kuromi.

Daizama mendadak tersenyum. "Mungkin sekitar pukul lima petang."

"Baik, besok aku akan menunggumu distasiun pusat Nagoya." sahut Kuromi dari ujung sana.

Daizama mengangguk, walau ia tau gerakannya takkan bisa dilihat oleh Kuromi. "Baiklah, mata ashita, konbanwa.."

"Konbanwa.." sahut gadis itu.

Daizama menekan tombol merah di ponselnya, lalu meletakkan benda persegi empat tipis itu ke meja kecil di samping kasurnya. Ia menatap langit-langit rumah sakit dengan menerawang. Memang, bohong itu bukanlah tindakkan benar. Tapi demi merahasiakan penyakit jantungnya dari Kuromi, ia harus mengaku bahwa ia ada acara di Tokyo karena kakeknya yang berulang tahun lalu mengadakan pesta besar-besaran.

Tadi malam, sekitar jam sembilan, Daizama merasakan nyeri yang luar biasa, lagi. Ia bahkan sampai pingsan karena tidak dapat menahan rasa sakit. Kedua orang tua Daizama yang kebetulan memang tengah berbincang kepada anak semata wayang mereka itu langsung membawanya kerumah sakit terdekat di Nagoya. Baru esok paginya, Daizama dipindahkan di rumah sakit Tokyo, tempat ia selalu mengontrol jantungnya.

"Sayang? Kau masih terjaga ya? Pukul berapa ini? Mengapa kau belum tidur?" ucap Nyonya Moyari, ibu dari Daizama sambil membuka kenop pintu lalu mendekat ke arah Daizama yang tengah berbaring.

Daizama langsung tersadar dari lamunannya dan menoleh ke sumber suara. "Hanya memikirkan kesehatanku. Apa kata dokter?" ucapnya sambil tersenyum.

Wanita itu terdiam lama, lalu memejamkan matanya sejenak. "Tidak apa-apa. Sesuai janjinya kau bisa pulang besok sore." tegas Ibunya.

Daizama tersenyum, lalu menerawang ke arah yang sama seperti sebelum ibunya datang. Ia merasakan kalau ibunya berbohong. Ia merasakan akan ada sesuatu yang buruk yang lambat laun akan terjadi padanya.

---

"Namun tadi, ada sebuah panggilan yang ditujukan kepadaku lewat telepon lewat panti, lagi. Dan yang Oba bilang, itu berasal dari Daizama. Betapa senangnya aku, akhirnya dia mengabariku. Ia bilang, ia tidak masuk  sekolah karena ia sibuk mengurusi pesta ulang tahun kakeknya yang ada di Tokyo. Memang ada banyak keraguan yang aku dengar dari nada bicara Daizama. Namun yang terpenting adalah, bahwa dia baik-baik saja. Dimanapun ia, ia sedang dalam kondisi yang baik-baik saja.."

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.