Love Me: Diary Sheet 6

" Nagoya, Senin, 18 April pukul 22.00

Aku tidak bisa membendung ini sendirian. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup aku melukai Obasan. Ini adalah satu-satunya hal yang tidak bisa aku simpan sendiri. Dan aku juga tidak mengerti kenapa aku memilih Daizama untuk menumpahkan segalanya. Bukan, mungkin aku mengerti. Itu karena iris abu-abunya yang menghipnotisku tiap aku memandangnya.."

---

Kuromi berjalan menuju ruang kelasnya dengan langkah gontai. Buku-buku perpustakaan yang ia pinjam minggu lalu harus dikembalikan hari ini, oleh karena itu ia mendekap beberapa buku yang tidak muat jika ia masukkan kedalam ranselnya. Ia tampak tidak bersemangat. Kejadian semalam membuatnya menangis semalaman. Matanya masih menyisakan bekas tangisan, badannya terasa lemas karena kurang tidur.

"Kuromi-chan!" pekik Daizama sambil menepuk bahu Kuromi pelan. Sontak Kuromi langsung terlonjak sambil memekik kaget dan melepaskan dekapannya hingga buku-buku yang ia bawa terjatuh.

"Aaa, gomenasai!" pekik Daizama lagi lalu langsung memungut tiga buah buku yang jatuh. Kuromi terdiam sambil mengusap dadanya dan mengatur nafas."Gomenasai.. Aku telah mengagetkanmu.. Aku telah memanggilmu tiga kali dari ujung lorong sana dan kau tetap tidak menoleh.. hontouni gomenasai.." ucap Daizama lagi setelah memungut buku Kuromi lalu menyerahkannya kepada gadis itu.

"Daijobu yo.." kata Kuromi tanpa melihat wajah Daizama, dengan ekspresi yang datar sambil menerima buku yang Daizama serahkan. Beberapa detik mereka diselingi keheningan, dan entah mengapa Daizama langsung merasakan ada sesuatu yang menimpa pada Kuromi.

"Nani ga atta no?" tanya Daizama sambil agak menunduk, berusaha menatap bola mata Kuromi, namun gadis itu memalingkan wajahnya.

"Hei.. ada apa? Bicaralah.." ucap Daizama lagi sambil menyentuh bahu Kuromi dan terus berusaha menatap bola matanya, sampai akhirnya mereka bertemu pandang.

Lagi-lagi Kuromi terdiam dalam pandangan Daizama. Ia seperti dihipnotis. Ia terdiam begitu lama. Iris abu-abu yang indah. Dan kemudian saja wajah yang cerah terpampang jelas di depan Kuromi. Wajah yang seolah bersedia menerimanya, yang penuh belas kasih dan kedamaian. Sebuah hasrat yang kuat mendorongnya untuk mencurahkan segala permasalahannya kepada Daizama. 

"Hey Kuromi? Apa yang terjadi? Mengapa kau menangis?" tanya Daizama dengan nada yang sangat khawatir.

Kuromi terhenyak, dan menyeka pipinya. Basah. Benar, ia menangis. Ia tidak menyadari kalau dirinya telah jatuh di depan Daizama secara terang-terangan. 

"Bi..bisakah kita bicara.. saat waktu istirahat nanti?" tanya Kuromi gemetar.

---

"Begitu ya.." ucap Daizama. Kuromi tersenyum sambil menangis, dengan tatapan yang menerawang ke arah kolam di taman sekolah.

"Ya, dan aku sangat menyesal telah melukai Oba.." sahut Kuromi disela tangisnya, lalu menyekanya. Ia berusaha menarik nafas dan menghembuskannya keras.

"Tapi kalau boleh tau.. apa alasan kau menolak semua permintaan adopsi?" kata Daizama hati-hati. Takut gadis itu menangis lagi.

"Karena mereka semua imitasi.." jawab Kuromi cepat, lalu tersenyum kecil. Daizama mengerutkan dahinya tidak mengerti.

"Mereka adalah imitasi. Kemana orang tuaku yang asli? Mereka.. mereka.. membuangku ke panti asuhan ini tentu karena aku merepotkan mereka, bukan? Kalau saja.. kalau saja aku membuat mereka senang, tentu aku tidak akan ada di panti itu.. Aku ini sungguh merepotkan.. Dan bagaimana mungkin aku bisa menerima yang imitasi.."

"Kalau yang asli pun membuangmu ke panti itu?" potong Daizama.

Kuromi terdiam dan menatap Daizama. Bagaimana laki-laki itu bisa mengetahui apa yang akan Kuromi katakan? Kuromi mengerutkan dahinya dan menggosok matanya yang lagi-lagi buram dengan air mata. Daizama tersenyum kecil, lalu menambahkan.

"Jika itu yang kau rasakan, mengapa tidak berusaha jujur padanya? Katakanlah yang sesungguhnya, bahwa kau tak ingin kemanapun. Disitulah kau tinggal, disitulah kau merasa nyaman, disitulah kau berpulang. Tak peduli bagaimanapun keadaanmu, selama kau bahagia, kau boleh mendapatkan hakmu, bukan?"

Kuromi terdiam lama dengan tatapan dalam ke arah Daizama. Laki-laki itu kini menghantarkan rasa yang begitu kuat, merobohkan seluruh dinding es yang ada pada diri Kuromi. Menghangatkannya, menenangkannya. Kuromi benar-benar tidak bisa berbicara. Tiap tuturnya, tiap nadanya, tiap pandangan iris abu-abunya..

"Kuromi-chan?" ucap Daizama sambil melambaikan tangan kanannya di depan wajah Kuromi. Kuromi langsung terkesiap dan terbelalak. Daizama terkekeh melihat gadis itu memasang ekspresi yang sangat lucu.

"Kau mengagetkanku saja..!" pekik Kuromi. Daizama langsung menahan tawanya dan menggumamkan maaf.

"Lagipula, aku kan sudah memberimu saran. Sebaiknya kau dengarkan aku.." ucap Daizama lagi.

Gadis itu hanya menggerutu sendiri. Namun jauh di dalam hatinya, ada secercah perasaan tenang dan bahagia yang menyelimuti. Itu semua berkat Daizama. Tanpanya, ia belum tentu bisa seperti ini. Sungguh, itu adalah kali pertama Kuromi menyakiti Oba, dan tentu saja ia sangat bingung atas apa yang harus ia lakukan agar hati Oba bisa kembali lagi. Dan Daizama benar, mengapa ia tidak berusaha jujur agar Obasan mengerti? Mengapa mereka tidak saling terbuka agar bisa saling memahami? Kuromi tersenyum sendiri.

"Hontouni Arigatou.. Daizama-san.." ucapnya sambil menatap Daizama dan tersenyum.

Melihat itu, Daizama segera membalas senyuman Kuromi. Entah mengapa, sebersit perasaan bahagia juga mengahampiri dirinya ketika Kuromi bisa tersenyum seperti itu. Ia merasakan hal yang seribu kali jauh lebih baik dari pada Kuromi harus mengalirkan butiran-butiran air matanya seperti tadi.

---

"Aku yakin kau bisa berjuang sendiri Kuromi-san!" ucap Daizama di persimpangan jalan. Kuromi mengangguk dan tersenyum tipis.

"Hontouni Arigatou Daizama-san.." ucap Kuromi sambil membungkukkan badannya. "Mata Ashita.." lanjutnya lagi. Daizama membalasnya dengan tindakan yang sama. Perlahan, Kuromi pun berbalik dan mulai menjauhi Daizama. Baru sekitar tiga langkah Kuromi beranjak pergi, Daizama memanggilnya.

"Ganbatte kudasai!" pekik laki-laki itu sambil mengepalkan telapak tangan kanannya dengan lengan yang menekuk. Kuromi tersenyum lagi, dan segera berbalik.

Sepanjang perjalanan Kuromi terus merangkai kata-kata yang telah ia siapkan untuk Oba. Ia mempercepat langkahnya. Ia tidak sabar untuk segera menggumamkan maaf dan mencurahkan segala yang ia rasakan. Ia ingin Oba mengerti kalau hanya pantilah tempat Kuromi yang sebenarnya.

"Tadaima.." ucap Kuromi sambil membuka pintu bangunan panti. Baru saja ia melangkah masuk, ia langsung mendapati Obasan yang tengah menghias rangkaian bunga di atas meja.

"Okaerinasai.." jawab Oba  pelan. "Apa kau sudah makan, Kuromi?" tanya Oba  sambil tetap fokus kepada serangkaian bunga di depannya. Kuromi menggeleng pelan, walau ia tau Oba pasti tidak akan melihat anggukannya karena beliau terlalu serius. Kuromi langsung mendekat dan duduk di samping Oba.

"Oba.." sapa Kuromi sambil menatapnya. Oba masih sangat serius pada pekerjaannya sehingga ia tidak menoleh sedikitpun ke arah Kuromi.

"Ada apa Kuromi? Bagaimana dengan sekolahmu? Tak ada masalah bukan?" tanyanya.

"Iie.." kata Kuromi singkat. Oba sendiri hanya bisa menganggukan kepalanya. Beberapa menit mereka hanya bisa terdiam dalam pikiran masing-masing. Tidak tau harus mengawalinya dari mana. Seperti saling menunggu.

"Maaf, Oba.." akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Kuromi, dan hal itu berhasil menghentikan Oba yang sedari tadi nampak asik dengan tugasnya. Kini wanita setengah abad itu menoleh perlahan dan menatap Kuromi dalam-dalam, sementara gadis itu sendiri malah menunduk.

"Aku.. Bukan, bukan maksudku untuk menyakiti Oba tadi malam. Hanya saja, aku.. aku memang benar-benar tidak ingin pergi kemanapun. Disinilah tempatku berpulang Oba.. Aku tidak bisa.." ucap Kuromi akhirnya. Hanya kata-kata itu yang bisa ia keluarkan. Ia tidak tau harus apa. "Untuk itu, maafkan aku Oba.. Aku janji biarpun kebutuhanku banyak, aku tidak akan merepotakn Oba.. Aku mohon, jangan menangis lagi. Aku menyayangi Obasan.." Kuromi makin menunduk, ia semakin takut atas apa yang akan terjadi setelah ia jujur seperti ini.

Namun, tiba-tiba saja, sebuah pelukan hangat mendarat di tubuh Kuromi. Kuromi terbelalak atas apa yang ia rasakan. Obasan kini tengah memeluknya sambil berisak di bahunya. Apa, apakah Kuromi salah lagi? Kuromi pun ikut mengalirkan air matanya, dan segera mnggumamkan kata maaf sebanyak-banyaknya. Ia telah membuat Obasan sedih, lagi.

Merasa tubuh gadis itu bergetar, Oba segera melepas pelukannya dan berusaha tersenyum di depannya.
"Sudahlah, tidak usah menangis juga. Oba tidak sedih sama sekali. Oba hanya terharu, dan merasa bersalah memaksamu untuk setuju di adopsi. Maafkan Oba  ya.." sahut Obasan sambil menyeka air matanya yang berlinangan lalu mengecup kening Kuromi. Saat itu juga Kuromi terdiam, dan perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhnya.

"Lagipula, aku juga sudah melupakannya. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Ini salah Oba  yang terlalu gegabah juga. Tidak usah menangis lagi.." lanjut Obasan. Kuromi pun menyeka air matanya sendiri dan berusaha tersenyum kecil.


aku sempat merasa bodoh atas tindakanku untuk mengajaknya berbicara. Namun, aku memaksakan diri, mengikuti kata hatiku. Dan ternyata benar, semua kata-kata Daizama adalah benar. Berkatnya, aku telah berhasil berdamai dengan Oba. Entah, entah mengapa bersamanya siang ini aku menjadi kuat. Aku menjadi mengerti, dan sangat nyaman. Sungguh, sekarang pun aku masih memikirkan tentang irisnya. Apa itu penyebab dari semua ini? Apa itu yang menyebabkan aku tenang dan merasa damai, hingga aku bisa berbicara jujur langsung pada Oba? Entah, aku tidak boleh memikirkan itu karena itu terlalu rumit bagiku. Yang jelas, mulai hari ini aku tau, bahwa Daizama adalah orang pertama yang telah memahamiku.."

Tidak ada komentar:

Begini

Aku menarik napas. Masih, masih terasa sakit. Ngilu dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menusuk. Tidak parah namun berkepanjangan. Lama se...

Diberdayakan oleh Blogger.