Love Me: Diary Sheet 8
" Nagoya, Sabtu 28 April 2005 pukul 22.00
Kemarin malam, ketika aku sedang duduk di meja belajarku dan melipat origami burung kertas Oba memberi tahuku bahwa ada telepon untukku. Aku merasa heran, aku tidak pernah memberi tahu siapapun tentang nomor telepon panti. Lalu siapa yang menelponku? Ialah, Daizama...."
---
Kuromi menganggkat gagang telepon dengan ragu lalu menempelkannya ke telinga kanan. "Moshi-moshi.." ucapnya pelan.
"Moshi-moshi.. Apa ini Kuromi?" tanya suara itu. Kuromi langsung membesarkan matanya. Ini adalah suara Daizama. Laki-laki yang belakangan ini selalu ada di dalam hidupnya. Degup jantungnya langsung bertambah dua kali lebih cepat.
"Ya.. Apa ini Daizama?" sahut Kuromi walau sebenarnya ia sangat yakin kalau ia memang sedang berbicara dengan si pemilik iris abu-abu itu.
"Haha.. Kau tau rupanya.." sahutnya. Mendengar Daizama tertawa tanpa sadar Kuromi menjadi tersenyum sendiri. "Aku mengganggumu tidak?" lanjut laki-laki itu.
"Nai.." jawab Kuromi lalu berdeham. "Nani ga atta no?" lanjutnya.
"Mmm.. begini. Kau tau? Besok adalah hari Festival Bunga Sakura.." katanya lalu berhenti.
Merasa ditunggu Kuromi menyahut. "Ya, lalu?"
"Ya... tentu kita akan mendapatkan suasana yang berbeda jika kita melihat festival itu di kota lain bukan?" lanjut Daizama.
Kuromi tertegun. Kita? Suasana yang berbeda? "Maksudmu?" tanya Kuromi bingung.
Daizama terkekeh. "Besok, kita akan ke Tokyo, pergi ke taman Ueno, dimana bunga-bunga sakura yang tumbuh disana sangat indah. Itupun kalau kau mau..."
Kuromi tersentak. Ke taman Ueno di Tokyo? Ia belum sekalipun menjajakan kaki di kota lain. Ia tidak pernah kemana-mana. Dan kini, Daizama mengajaknya. Ia memang tau bahwa taman Ueno adalah taman yang indah, tapi ia belum pernah kesana. Ia hanya tau dari orang-orang. Dan besok adalah hari Festival Bunga Sakura. Biasanya, dari tahun ke tahun ia hanya menikmati mekarnya bunga merah jambu itu di sekitar Kastel Nagoya.
"Bagaimana?" ucap Daizama yang membuat Kuromi berhenti melamun di dalam pikirannya.
"Aku tidak tahu.." jawab Kuromi.
"Ayolah, besok kan hari libur. Memangnya kau ingin terus menikmati hari libur di dalam kamar? Soal Oba biar aku yang meminta izin.." Daizama meyakinkan.
Kuromi berpikir lagi sejenak. Ini memang kesempatan bagus. "Kau tau jalan di Tokyo kan?" tanya Kuromi.
Mendengar itu Daizama terkekeh lagi di ujung sana. "Tentu aku tau, kalau tidak mana mungkin aku mengajakmu." tegasnya.
Kuromi terdiam sejenak, dan akhirnya menarik nafas sambil berkata "Baiklah.. Pukul berapa kita berangkat?"
"Pukul sembilan pagi aku akan menjemputmu. Kita akan naik Shinkansen. Kau tidak keberatan kan?" tanya Daizama.
"Tentu tidak. Baiklah, aku tunggu kau besok." sahut Kuromi. "Ada lagi yang ingin kau bicarakan?" lanjutnya. Hening selama beberapa menit. Kuromi menunggu.
"Mmm, tidak. Hanya merindukanmu."
Baru saja Kuromi merasakan hal yang wajar, dimana ia menghadapi Daizama layaknya menghadapi orang lain. Namun sekarang, laki-laki itu berhasil membuat jantung Kuromi mencelos lagi untuk kesekian kalinya. Pipi gadis itu terasa hangat. Ia merasakan wajahnya yang dengan cepat telah berubah warna. Ia hanya bisa terdiam, tidak sanggup berkata apa-apa. Kata terakhir terus terngiang di dalam kepalanya. Hanya merindukanmu....
"Anooo.. aku rasa sudah malam. Jangan lupa besok pagi ya.." kata Daizama di sela keheningan, membuat Kuromi sadar dari lamunannya. Ya, laki-laki itu selalu membuat Kuromi melamun, namun ia sendiri juga yang menyadarkannya.
"Ah, mochiron. Konbanwa.." kata Kuromi dengan sangat gugup, lalu menutup telepon sebelum Daizama hendak mengucapkan sesuatu.
Di ujung sana, Daizama malah tersenyum sendiri. "Konbanwa.." kata Daizama walau ia tau Kuromi takkan mendengarnya, lalu menutup telepon.
---
"ia menelpon untuk mengajakku pergi ke taman Ueno di Tokyo. Betapa kagetnya aku, dan terlebih lagi, ia mengucapkan kalimat yang sungguh tidak masuk akal untukku. Ya, aku ingin menganggap bahwa aku hanya salah mendengar ucapannya. Namun tidak bisa, sangat tidak bisa.. Bahwa ia merindukanku.. Entah, aku tidak ingin mengingatnya tapi kalimat itu selalu terngiang di kepalaku. Akibatnya, aku pun tidur sangat larut, dan bangun sangat pagi. Tentu saja aku harus bersiap-siap karena besok adalah hari yang dijanjikan Daizama. Walaupun aku sangat enggan, dan takut mendadak gugup lagi ketika bertemu dengannya, namun aku harus memenuhi janjiku.."
---
Daizama menunggu di ruang tamu sambil melihat sekeliling. Memang ukurannya tidak terlalu besar, namun dekorasi panti itu sangat menarik dan tidak bosan untuk dipandang. Daizama berniat akan bertanya pada kedua orang tuanya siapa yang telah merancang bangunan ini.
"Baiklah, aku siap." tegur Kuromi dari arah belakang Daizama. Mendengar itu Daizama menoleh.
"Waaah, kau sangat manis dengan sweter pink itu ya.." pekik Daizama. Kuromi terdiam beberapa saat. Merasakan desir darahnya dan detak jantungnya yang makin cepat.
Hari ini gadis itu memang memakai pakaian serba pink: topi rajut, ransel yang berukuran sedang, sweter, dan sepatu cats. Ia ingin menyesuaikan warna dengan bunga yang akan ia lihat nanti.
"Kenapa diam saja? Ohya, mana Oba?" tanya Daizama, membuyarkan lamunan Kuromi untuk kesekian kalinya.
"Pukul delapan tadi Oba dan seisi anak panti pergi ke Kastil Nagoya. Aku dan seluruh penghuni panti memang pergi kesana tiap Festival Bunga Sakura..." jelas Kuromi.
Daizama mengangguk-angguk mengerti "Berarti, kau sudah meminta izin pada Obasan?"
Kuromi menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Dan kau diizinkan?" tanya Daizama lagi, dan Kuromi mengangguk lagi.
"Lalu bagaimana dengan panti ini?" tanya Daizama ketiga kalinya.
"Soal itu, ada Oji si tukang kebun yang menjaga panti. Oba telah menitipkannya tadi sebelum berangkat ke Kastil, jadi kita bisa langsung pergi."
Daizama mengangguk dan tersenyum. Ia merasa semuanya telah terkendali. "Kalau begitu, ayo kita berangkat." ajaknya.
---
Hampir sepuluh kali Kuromi berdecak kagum dan mengucapkan kata Sugoii (luar biasa) tiap kali mereka berkeliling, melihat pemandangan dari sudut yang berbeda. Daizama ikut tersenyum dan senang. Bukan, bukan karena terkagum dengan bunga nasional negaranya itu, namun karena gadis yang berada di sampinya tampak sangat puas dan bahagia. Ia senang melihatnya tersenyum dan bahagia seperti itu.
"Daizama-san, coba lihat kelopak bunga yang jatuh di atas sungai itu! Indah sekali, ya..!" pekik Kuromi sambil mengguncang-guncang lengan Daizama.
Tiba-tiba saja laki-laki itu merasa ada sebuah getaran yang mengalir di dalam dirinya karena sentuhan Kuromi. Jantungnya serasa berdegup dua kali lebih cepat. Ia merasakan kegugupan yang luar biasa. Ia bahkan tidak bisa merasakan udara di tenggorokannya.
"Ya.." kata Daizama singakat dengan suara yang cukup aneh, namun Kuromi tidak memerhatikannya.
Kuromi sendiri bingung mengapa ia bisa reflek menggenggam tangan Daizama seperti itu. Ia juga merasakan hal yang serupa. Getaran yang serupa. Detak jantung yang serupa.. Oleh karena itu ia tidak menghiraukan nada bicara Daizama yang aneh. Perlahan ia melepaskan genggamannya dan menarik tangannya. Ia sungguh merasa bodoh: membuat hal yang menyebabkan dirinya gugup sendiri.
Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara percakapan orang-orang di sekitar mereka dan desiran angin di Tokyo yang tertangkap oleh pendengaran laki-laki dan gadis itu.
"Hey, sudah pukul dua belas lewat.." ucap Daizama memecah keheningan. Kuromi menoleh cepat ke arah laki-laki yang tubuhnya sejengkal lebih tinggi darinya. "Bagaimana kalau kita mencari sesuatu untuk dimakan?" lanjutnya lagi.
Kuromi langsung menyahut cepat "Ah, soal itu. Aku membawa bento. Kurasa kita bisa memakannya." ucapnya dengan nada bicara yang masih agak gugup.
"Waaah, yang benar? Apa kau yang membuatnya?" tanya Daizama.
Kuromi menjawabnya dengan anggukan kepala. "Ya, aku membawa dua bento. Satu untukmu dan satu untukku."
"Waaaah, hebat. Kalau begitu ayo kita cari tempat untuk menikmati bento buatanmu."
---
"Perkedel ikan tuna dan sawi putih tadi sangat enak, Kuromi-chan!" ucap Daizama sambil menepuk-nepuk perutnya. "Terima kasih, ini bisa menghemat pengeluaran." lanjutnya lagi sambil menatap gadis itu.
Kuromi tersenyum dan mengangguk, lalu meletakkan kotak bento ke dalam ranselnya, lalu menutup resleting ransel. Ia sangat senang. Ini kali pertama, hasil masakannya di puji oleh teman laki-lakinya.
"Ohya, bagaimana setelah ini kita berfoto-foto dulu untuk mengabadikan momen ini?" tanya Daizama. Kuromi menoleh. Melihat ekspresi Kuromi yang aneh, Daizama bertanya lagi. "Kenapa?"
"Menggunakan apa? Aku tidak mempunyai kamera.." sahut Kuromi.
Daizama tersenyum. "Kalau itu, aku juga lupa membawanya. Tapi masih ada ponsel ku, kita bisa memakai kameranya."
---
"dan aku.. kami.. benar-benar pergi ke Tokyo. Aku tidak tau kalau taman Ueno yang dibicarakan orang-orang memang sangat indah. Tidak, lebih dari apa yang aku bayangkan. Aku sangat senang hari itu. Bunga sakura di sana jauh lebih banyak daripada di sekitar Kastil Nagoya. Biarpun tadi aku melakukan hal yang amat bodoh. Ya, aku tidak tau mengapa aku bisa menggenggam lengan Daizama ketika melihat kelopak sakura berjatuhan di atas sungai. Aku sangat gugup.. namun terbesit rasa senang dan kedamaian di sana. Belum lagi, Daizama memuji masakan ku. Dia bilang rasanya sangat enak. Aku sangat senang.. Sangat senang hari ini.. Karena bunga-bunga itu.. Karena laki-laki itu..."
Kuromi sendiri bingung mengapa ia bisa reflek menggenggam tangan Daizama seperti itu. Ia juga merasakan hal yang serupa. Getaran yang serupa. Detak jantung yang serupa.. Oleh karena itu ia tidak menghiraukan nada bicara Daizama yang aneh. Perlahan ia melepaskan genggamannya dan menarik tangannya. Ia sungguh merasa bodoh: membuat hal yang menyebabkan dirinya gugup sendiri.
Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara percakapan orang-orang di sekitar mereka dan desiran angin di Tokyo yang tertangkap oleh pendengaran laki-laki dan gadis itu.
"Hey, sudah pukul dua belas lewat.." ucap Daizama memecah keheningan. Kuromi menoleh cepat ke arah laki-laki yang tubuhnya sejengkal lebih tinggi darinya. "Bagaimana kalau kita mencari sesuatu untuk dimakan?" lanjutnya lagi.
Kuromi langsung menyahut cepat "Ah, soal itu. Aku membawa bento. Kurasa kita bisa memakannya." ucapnya dengan nada bicara yang masih agak gugup.
"Waaah, yang benar? Apa kau yang membuatnya?" tanya Daizama.
Kuromi menjawabnya dengan anggukan kepala. "Ya, aku membawa dua bento. Satu untukmu dan satu untukku."
"Waaaah, hebat. Kalau begitu ayo kita cari tempat untuk menikmati bento buatanmu."
---
"Perkedel ikan tuna dan sawi putih tadi sangat enak, Kuromi-chan!" ucap Daizama sambil menepuk-nepuk perutnya. "Terima kasih, ini bisa menghemat pengeluaran." lanjutnya lagi sambil menatap gadis itu.
Kuromi tersenyum dan mengangguk, lalu meletakkan kotak bento ke dalam ranselnya, lalu menutup resleting ransel. Ia sangat senang. Ini kali pertama, hasil masakannya di puji oleh teman laki-lakinya.
"Ohya, bagaimana setelah ini kita berfoto-foto dulu untuk mengabadikan momen ini?" tanya Daizama. Kuromi menoleh. Melihat ekspresi Kuromi yang aneh, Daizama bertanya lagi. "Kenapa?"
"Menggunakan apa? Aku tidak mempunyai kamera.." sahut Kuromi.
Daizama tersenyum. "Kalau itu, aku juga lupa membawanya. Tapi masih ada ponsel ku, kita bisa memakai kameranya."
---
"dan aku.. kami.. benar-benar pergi ke Tokyo. Aku tidak tau kalau taman Ueno yang dibicarakan orang-orang memang sangat indah. Tidak, lebih dari apa yang aku bayangkan. Aku sangat senang hari itu. Bunga sakura di sana jauh lebih banyak daripada di sekitar Kastil Nagoya. Biarpun tadi aku melakukan hal yang amat bodoh. Ya, aku tidak tau mengapa aku bisa menggenggam lengan Daizama ketika melihat kelopak sakura berjatuhan di atas sungai. Aku sangat gugup.. namun terbesit rasa senang dan kedamaian di sana. Belum lagi, Daizama memuji masakan ku. Dia bilang rasanya sangat enak. Aku sangat senang.. Sangat senang hari ini.. Karena bunga-bunga itu.. Karena laki-laki itu..."

Tidak ada komentar: