Love Me: Diary Sheet 7
" Nagoya, Selasa 19 April 2005 pukul 00.30
Lagi-lagi. Aku terjaga sampai sebegini larutnya, karena iris itu. Hanya saja, pancaran irisnya berubah menjadi lebih hangat dan nyaman. Bahkan kadang aku sering merasa, bahwa aku menemukan sesuatu yang berharga, lewat iris Daizama. Kebahagiaan, kedamaian, entahlah.. Aku ingin sekali bertanya langsung padanya, mengapa bisa... Namun, aku bukanlah perempuan berani seperti orang-orang. Aku hanya bisa berkecamuk di dalam diri, tanpa ekspresi. Berusaha menyembunyikannya, menganggap bahwa semua rasa yang aku punya, adalah rahasia.. Tapi tak disangka, bahwa ia sendiri tidak tau mengapa aku sering memalingkan wajah darinya."
---
Belakangan ini, Daizama lebih mudah mengenali Kuromi walau Daizama tidak terlalu sering mengenalnya. Firasat, insting. Ya, ia menganggapnya seperti itu. Begitu pula pagi ini. Gadis yang berjalan pada lorong yang sama dengannya, tepat di depannya. Pasti itulah Kuromi. Daizama pun melangkah cepat agar langkahnya beriringan dengan gadis itu.
"Ohayou.." sapa Daizama ketika persis ada di samping Kuromi.
"Ah, ohayou.." sahut Kuromi sambil mengulaskan sebuah senyuman simpul.
"Kinou ga dou desuka? Apa berhasil?" tanya Daizama langsung. Ya, itulah tujuan utamanya pagi ini. Memastikan Kuromi telah berdamai atas perangnya dengan Obasan, memastikan bahwa gadis itu tidak bersedih lagi. Dan, semoga saja ekspresi cerahnya pada pagi ini melambangkan sesuatu yang baik telah terjadi.
"Aku telah berdamai dengan Oba.." ucapnya sambil menunduk lalu tersenyum. "Terima kasih banyak, Daizama-san.." katanya lagi sambil menoleh kearah Daizama. Namun saat itu juga Kuromi baru tersadar, bahwa sedari tadi Daizama tengah memandanginya. Kuromi pun tersentak lalu menunduk lagi. Entah mengapa pipinya terasa menghangat.
"Kalau begitu baguslah.." jawab Daizama, lalu cepat-cepat menambahkan. "Anoo.. Kuromi-chan.. Bolehkah aku bertanya?"
Kuromi yang masih menunduk mengernyitkan alisnya. "Apa?" jawabnya sambil terus merunduk. Entah mengapa jantungnya terasa berdegup dua kali lebih cepat.
"Eeto.. Sebenarnya ini agak aneh.. aku merasa.. kau, seperti selalu memalingkan wajah padaku.. Apa.. di wajahku ada sesuatu yang tidak beres?"
Mendengar itu Kuromi langsung menghentikan langkahnya lalu menatap Daizama. Mereka bertemu pandang. Mereka terdiam, terdiam di dalam pandangan mereka. Mereka bisa berkaca pada lensa satu sama lain. Beberapa detik mereka hanya seperti itu, dan tiba-tiba saja Daizama tersenyum.
"Kau sangat manis, ya.."
Kuromi merasakan jantungnya mencelos. Apa ia salah dengar? Dengan cepat pipinya memanas, bahkan ia merasa wajahnya telah berubah warna. Kuromi segera memalingkan wajahnya, menunduk lagi.
"Haaah, benar kan? Tahukah kau, sudah beberapa hari ini mengganggu pikiranku. Kadang sebelum berangkat sekolah, aku bercermin dengan sangat teliti. Namun tidak ada apa-apa... Tapi, kau tetap seperti itu.." ucap Daizama dengan nada bicara yang agak menyesal, matanya masih melirik ke arah Kuromi.
Kuromi masih mematung. Ini kali pertama... bagaimana bisa? Sepertinya ia salah dengar.. Lalu apa yang Daizama ucapkan tadi? Kuromi langsung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa itu hanya kesalahan.
"Neee... Aku berbicara padamu, lho.." lanjut Daizama lagi. Mendengar itu Kuromi langsung tersadar dari pemikirannya. Ia menoleh ke arah Daizama secara singkat, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Tidak ada apapun di wajahmu, sungguh. Ohya, sebentar lagi bel masuk berbunyi. Aku harus cepat. Ja, mata.." katanya buru-buru lalu menghadap ke arah Daizama dan membungkukkan badan. Daizama pun mengucapkan kata yang sama, disusul dengan langkah cepat Kuromi yang melangkah pergi darinya.
---
Waktu istirahat. Kuromi tengah duduk di teras sekolah, sambil mengunyah bento yang ia siapkan sendiri pagi ini. Bentuknya memang tidak bagus seperti milik teman-temannya. Ya, ia tidak begitu suka menghias bento. Yang penting itu bisa membuatnya kenyang. Bisa saja ia meminta Obasan agar dibuatkan bekal yang lucu dan enak. Namun Kuromi tidak ingin merepotkan siapa-siapa lagi. Selama ia masih bisa melakukannya sendiri, ia tidak akan meminta bantuan kepada siapapun.
"Waaah.. hari ini kau membawa apa Kuromi-chan?" pekik Daizama. Kuromi terkejut dan hampir tersedak. Ia segera mengambil botol minumnya, membuka tutupnya, lalu meneguk air di dalamnya.
"Aaaaa, gomenasai.." lanjut Daizama sambil menjatuhkan bokongnya ke teras yang sama dengan Kuromi. "Sepertinya, aku selalu mengejutkanmu ya.. Maafkan aku.." sesal Daizama, dan tepat saat itu pula Kuromi selesai menelan air minumnya, lalu menarik nafas.
"Daijobu yo.. Tapi mungkin lain kali kau bisa mengecilkan volume suaramu.." kata Kuromi sambil meletakkan tutup pada botol lalu memutarnya. Daizama mengangguk pasti.
"Ya, tentu saja.." katanya sambil tersenyum. Kuromi langsung memalingkan pandangan ke arah bentonya dengan halus, karena seperti biasa, pipinya menghangat tiba-tiba. "Tokorode.. aku baru pertama kali melihat kau membawa bekal lalu memakannya disini.." ucap Daizama lagi.
Ya, tentu saja Kuromi melakukan ini, karena hampir setiap hari Daizama mengunjungi kelasnya semata untuk bertemu dengannya. Bukan karena Kuromi enggan, melainkan karena ia yang selalu gugup atas kehadiran Daizama. Terutama atas kejadian tadi pagi. Oleh karena itu ia menghindar seperti itu, namun ternyata Daizama masih bisa menemukannya. "Hanya ingin menikmati pemandangan sekolah.." tutur Kuromi lalu memasukkan segumpal nasi ke dalam mulutnya.
"Sokka.." sahut Daizama. "Bagaimana dengan pelajaranmu tadi?" lanjutnya lagi.
"Baik.." sahut Kuromi cepat disela kunyahannya.
Daizama terdiam. Ia merasakan ada yang aneh pada gadis di sampingnya. Daizama merasakan kalau ia diacuhkan. "Kau sedang kesal ya?" tanya Daizama akhirnya. Mendengar itu Kuromi tersentak.
"Apa? Tidak.." jawab Kuromi.
"Benar?" Daizama memastikan.
"Mochiron.. " sahut Kuromi dengan cepat lalu menjepit gumpalan nasi terakhirnya dan memasukannya ke dalam mulut.
Daizama langsung mengulaskan senyum. Ia memandang gadis itu lama.
"Ah, Aku hampir lupa. Aku harus mengembalikan buku perpustakaan karena pagi tadi belum sempat." kata Daizama sambil menepuk dahinya pelan.
"Kalau begitu kembalikanlah sekarang.." ucap Kuromi dengan mulut yang masih mengunyah. Daizama menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Aku pergi dulu ya.." kata Daizama sambil bangkit dari duduknya, lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah Kuromi.
"Nani?" tanya Kuromi bingung setelah menelan makanannya.
Laki-laki itu tersenyum lalu meraih tangan kanan Kuromi yang bebas dengan tangan kirinya, dan menepukannya pada tangan kanan Daizama. "Ja, mata.." ucap Daizama lalu berbalik pergi. Kuromi terdiam. Ia merasa gugup lagi, dan wajahnya menghangat lagi. Yang barusan Daizama lakukan benar-benar sukses membuatnya memerah dan mematung. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Pandangan Kuromi terus tertuju pada punggung Daizama hingga menghilang di balik lorong. Kuromi berusaha mengatur nafas. Lagi, ia seperti ini.
---
"Aku bingung, tidak mengerti. Memang kadang perasaan ini merepotkan, karena mendadak apa yang ada di dalam pikiranku menghilang. Tidak, tidak menghilang. Yang ada di pikiranku hanya senyuman Daizama dan irisnya yang begitu indah. Itu saja. Namun begitu, aku menyukainya. Ada sebersit rasa bahagia ketika memandangnya. Nyaman, hangat.. Dan apalagi ketika tadi, ketika telapakku menyentuh telapaknya.. Aku.. Aku.. Entahlah, perasaan apa ini, yang jelas aku sangat bingung, tidak mengerti.."
つづく
Waktu istirahat. Kuromi tengah duduk di teras sekolah, sambil mengunyah bento yang ia siapkan sendiri pagi ini. Bentuknya memang tidak bagus seperti milik teman-temannya. Ya, ia tidak begitu suka menghias bento. Yang penting itu bisa membuatnya kenyang. Bisa saja ia meminta Obasan agar dibuatkan bekal yang lucu dan enak. Namun Kuromi tidak ingin merepotkan siapa-siapa lagi. Selama ia masih bisa melakukannya sendiri, ia tidak akan meminta bantuan kepada siapapun.
"Waaah.. hari ini kau membawa apa Kuromi-chan?" pekik Daizama. Kuromi terkejut dan hampir tersedak. Ia segera mengambil botol minumnya, membuka tutupnya, lalu meneguk air di dalamnya.
"Aaaaa, gomenasai.." lanjut Daizama sambil menjatuhkan bokongnya ke teras yang sama dengan Kuromi. "Sepertinya, aku selalu mengejutkanmu ya.. Maafkan aku.." sesal Daizama, dan tepat saat itu pula Kuromi selesai menelan air minumnya, lalu menarik nafas.
"Daijobu yo.. Tapi mungkin lain kali kau bisa mengecilkan volume suaramu.." kata Kuromi sambil meletakkan tutup pada botol lalu memutarnya. Daizama mengangguk pasti.
"Ya, tentu saja.." katanya sambil tersenyum. Kuromi langsung memalingkan pandangan ke arah bentonya dengan halus, karena seperti biasa, pipinya menghangat tiba-tiba. "Tokorode.. aku baru pertama kali melihat kau membawa bekal lalu memakannya disini.." ucap Daizama lagi.
Ya, tentu saja Kuromi melakukan ini, karena hampir setiap hari Daizama mengunjungi kelasnya semata untuk bertemu dengannya. Bukan karena Kuromi enggan, melainkan karena ia yang selalu gugup atas kehadiran Daizama. Terutama atas kejadian tadi pagi. Oleh karena itu ia menghindar seperti itu, namun ternyata Daizama masih bisa menemukannya. "Hanya ingin menikmati pemandangan sekolah.." tutur Kuromi lalu memasukkan segumpal nasi ke dalam mulutnya.
"Sokka.." sahut Daizama. "Bagaimana dengan pelajaranmu tadi?" lanjutnya lagi.
"Baik.." sahut Kuromi cepat disela kunyahannya.
Daizama terdiam. Ia merasakan ada yang aneh pada gadis di sampingnya. Daizama merasakan kalau ia diacuhkan. "Kau sedang kesal ya?" tanya Daizama akhirnya. Mendengar itu Kuromi tersentak.
"Apa? Tidak.." jawab Kuromi.
"Benar?" Daizama memastikan.
"Mochiron.. " sahut Kuromi dengan cepat lalu menjepit gumpalan nasi terakhirnya dan memasukannya ke dalam mulut.
Daizama langsung mengulaskan senyum. Ia memandang gadis itu lama.
"Ah, Aku hampir lupa. Aku harus mengembalikan buku perpustakaan karena pagi tadi belum sempat." kata Daizama sambil menepuk dahinya pelan.
"Kalau begitu kembalikanlah sekarang.." ucap Kuromi dengan mulut yang masih mengunyah. Daizama menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Aku pergi dulu ya.." kata Daizama sambil bangkit dari duduknya, lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah Kuromi.
"Nani?" tanya Kuromi bingung setelah menelan makanannya.
Laki-laki itu tersenyum lalu meraih tangan kanan Kuromi yang bebas dengan tangan kirinya, dan menepukannya pada tangan kanan Daizama. "Ja, mata.." ucap Daizama lalu berbalik pergi. Kuromi terdiam. Ia merasa gugup lagi, dan wajahnya menghangat lagi. Yang barusan Daizama lakukan benar-benar sukses membuatnya memerah dan mematung. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Pandangan Kuromi terus tertuju pada punggung Daizama hingga menghilang di balik lorong. Kuromi berusaha mengatur nafas. Lagi, ia seperti ini.
---
"Aku bingung, tidak mengerti. Memang kadang perasaan ini merepotkan, karena mendadak apa yang ada di dalam pikiranku menghilang. Tidak, tidak menghilang. Yang ada di pikiranku hanya senyuman Daizama dan irisnya yang begitu indah. Itu saja. Namun begitu, aku menyukainya. Ada sebersit rasa bahagia ketika memandangnya. Nyaman, hangat.. Dan apalagi ketika tadi, ketika telapakku menyentuh telapaknya.. Aku.. Aku.. Entahlah, perasaan apa ini, yang jelas aku sangat bingung, tidak mengerti.."
つづく

Tidak ada komentar: